MPLS bukan hanya perkenalan. Di SMPN 2 Jetis, MPLS tahun ajaran baru 2026-2027 adalah ”kelas pertama” untuk menanamkan dua identitas besar sekolah, yakni Adiwiyata dan budaya Majapahit. Ratusan siswa baru tersebut ditempa selama 5 hari, 13–17 Juli lalu.
Kepala SMPN 2 Jetis Niki Purwane Rahayu menyebutkan, MPLS adalah bagian dari fondasi karakter. ”Kami ingin anak-anak datang ke sekolah dengan hati yang tenang. MPLS bukan ajang senioritas, tapi ruang untuk menumbuhkan rasa bangga menjadi keluarga besar SMPN 2 Jetis,” ujar Niki.
Rangkaian MPLS dimulai dari Senin dengan upacara pembukaan dan pengenalan 8 gugus: air, bunga, cuaca, daun, ekosistem, flora, gunung, dan hutan. Siswa juga dibekali gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dan budaya 5S (senyum, salam, sapa, sopan, dan santun). ”Tujuh kebiasaan hebat itu fundamental. Kami tanamkan sejak hari pertama agar menjadi budaya,” jelasnya.
Kemudian, Selasa dan Rabu diisi gerakan ASRI, Rukun sama Teman, pencegahan Napza, dan pengenalan sarana prasarana. ”Lingkungan harus aman dan bersih. Anak harus tahu bahaya Napza. Anak juga harus paham fungsi laboratorium, perpustakaan, dan UKS,” terang dia.
Kamis menjadi hari penutup MPLS yang paling khas. Sebab, materinya langsung mengerucut ke jati diri sekolah, yaitu Sekolah Adiwiyata dan budaya lokal Majapahit. ”Sebagai sekolah Adiwiyata, kami ingin menumbuhkan cinta lingkungan. Ditambah budaya Majapahit, agar anak-anak tidak melupakan akar sejarah Mojokerto. Dari sampah sampai sejarah, semua kami ajarkan di MPLS,” imbuh Niki.
Selama kegiatan MPLS, siswa wajib memakai seragam sesuai ketentuan. Setiap hari kegiatan ditutup dengan salat Duhur berjamaah. Dengan jadwal terstruktur dan pendekatan yang ramah, SMPN 2 Jetis berharap MPLS 2026 menjadi awal yang baik bagi peserta didik baru untuk beradaptasi, berkarakter, dan berprestasi. (oce/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto