PELAKSANAAN Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah tahun ajaran 2026/2027 di SDN Penompo 1, Kecamatan Jetis dirancang untuk membantu siswa baru melewati fase transisi dari jenjang pendidikan usia dini ke SD secara mulus tanpa rasa cemas.
Melalui pendekatan yang penuh kasih sayang dan kelembutan, sekolah diposisikan layaknya ”rumah kedua” bagi para murid baru guna menumbuhkan semangat belajar dalam suasana penuh keceriaan.
Kepala SDN Penompo 1 Andi Faisal Syahrosa mengatakan, MPLS tahun ini diikuti sebanyak 51 siswa baru. Mereka terdiri dalam dua rombongan belajar (rombel), yaitu 26 siswa di kelas 1A dan 25 siswa di kelas 1B. Pembagian jumlah siswa itu dilakukan demi memastikan prinsip orientasi yang ramah anak dapat berjalan optimal, serta menjamin setiap murid mendapatkan perhatian yang intensif. ”Dengan pembagian kelas yang ideal dan kondusif, interaksi personal antara wali kelas dan murid dapat terjalin lebih dekat,” tuturnya.
Melalui kegiatan MPLS, sekolah menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya edukatif dan menyenangkan, tetapi juga aman, nyaman, bebas perpeloncoan, serta sarat akan penanaman karakter sejak hari pertama sekolah.
”Dengan mengikuti MPLS Ramah, kini seluruh siswa baru di SDN Penompo 1 telah siap memulai perjalanan petualangan belajar mereka dengan penuh semangat, rasa percaya diri, dan kesiapan untuk menggapai prestasi terbaik,” ungkapnya.
Andi menerangkan, berbagai materi yang diberikan selama MPLS diselaraskan dengan rujukan resmi kementerian. Antara lain, Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) untuk melatih kedisiplinan harian murid dan program Pagi Ceria yang diisi dengan senam dan doa bersama.
Ada pula materi penguatan Budaya 5S (senyum, salam, sapa, sopan, dan santun), etika sopan santun bermedia sosial, serta Gerakan Rukun Sama Teman (GRST) untuk mencegah perundungan sejak dini. ”Selain itu, anak-anak juga diberikan materi pilihan berupa pengenalan kultur, tata tertib, dan fasilitas fisik sekolah lewat metode simulasi interaktif,” imbuh Andi.
Menurutnya, pihak sekolah secara intensif menekankan pembentukan karakter dan kemandirian siswa yang diwujudkan secara nyata melalui Gerakan Indonesia ASRI (aman, sehat, resik, dan indah).
Pada aspek aman, siswa baru ditanamkan kesadaran sosiokultural untuk saling menyayangi, menghargai perbedaan, dan berani melapor jika mengalami hal yang tidak nyaman.
Adapun aspek sehat diterapkan melalui pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan toilet, serta edukasi membawa bekal makanan sehat berorientasi gizi seimbang.
Sementara itu, aspek resik, melatih kemandirian dan tanggung jawab anak untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya, serta mengenal pembagian piket kelas.
Sedangkan aspek indah, melengkapi gerakan ini dengan melatih anak-anak menjaga kerapian ruang belajar, merawat fasilitas bersama, serta menanamkan budaya antre dalam setiap aktivitas di sekolah.
Andi menyatakan, dengan membangun rasa percaya diri melalui lingkungan sekolah yang hangat dan inklusif, anak-anak diharapkan siap mengikuti pembelajaran aktif yang bermakna dan berpusat pada murid (student-centered learning/SCL).
Selama masa pengenalan ini, para guru juga melakukan pemetaan profil awal siswa berdasarkan bakat, minat, serta kondisi sosial-emosional yang diisi bersama orang tua. Sehingga metode pembelajaran ke depan dapat disesuaikan dengan keunikan tiap anak.
”Sementara itu, melalui sesi unjuk karya di akhir pekan orientasi, sekolah berharap para siswa baru tumbuh menjadi pelajar yang berani mengekspresikan ide kreatif, aktif berkolaborasi, dan siap mengikuti kegiatan belajar dengan rasa ingin tahu yang tinggi,” jelasnya. (adi/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto