Komitmen Yayasan Perguruan Tamansiswa Mojokerto dalam melestarikan budaya melalui dunia pendidikan berbuah apresiasi. Yayasan ini akan menerima penghargaan Cultural Preservation Leadership dalam event Jawa Pos Radar Mojokerto Award 2026 atas kepemimpinannya dalam menginternalisasikan nilai-nilai budaya kepada guru, siswa, hingga lingkungan sekolah.
KETUA Yayasan Perguruan Tamansiswa Mojokerto Ki Drs H Suradiyana, M.Pd, menjelaskan, pelestarian budaya tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan ekstrakurikuler, tetapi telah menjadi bagian dari tata kelola lembaga. Komitmen tersebut dimulai sejak proses rekrutmen guru hingga pengembangan karier tenaga pendidik.
’’Pada saat rekrutmen, calon guru mengikuti wawancara yang juga menggali pemahaman dan kepedulian terhadap budaya lokal. Bahkan, guru yang mengajukan kenaikan pangkat diwajibkan memiliki portofolio kegiatan atau proyek budaya,’’ ujarnya.
Di tingkat manajemen sekolah, kepala sekolah juga didorong aktif mengawal program pelestarian budaya melalui rapat budaya dan supervisi budaya secara berkala. Yayasan turut memberikan insentif khusus kepada guru yang berperan aktif sebagai pembina kegiatan seni dan budaya.
Upaya tersebut diwujudkan melalui berbagai program unggulan di sekolah, seperti sanggar seni yang membina seni musik, seni tari, hingga sendratari. ’’Selain itu, siswa juga didorong mengembangkan karakter melalui kegiatan Paskibra serta keterampilan dan kerajinan berbasis budaya,’’ ujar Ki Suradiyana.
Untuk memastikan nilai-nilai budaya benar-benar tertanam, yayasan melakukan evaluasi secara berkala melalui angket kepada siswa, pemantauan terhadap komunitas alumni. Juga, dengan melakukan tracer study guna melihat keberlanjutan implementasi nilai budaya setelah siswa lulus.
Di era digital, Yayasan Perguruan Tamansiswa Mojokerto juga memanfaatkan teknologi sebagai sarana pelestarian budaya. Seluruh kegiatan budaya didokumentasikan dalam bank data sekolah, sekaligus dipublikasikan melalui berbagai platform digital agar lebih dikenal masyarakat.
Pelestarian budaya juga diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. Bersama sekolah, yayasan mengembangkan jejaring melalui MGMP Guru Seni Budaya dan penyelenggaraan berbagai lomba. Sementara dengan orang tua, dibentuk forum Wali Budaya, pentas seni akhir tahun, serta grup komunikasi untuk mendukung kegiatan budaya siswa.
’’Melalui berbagai kebijakan dan program tersebut, Yayasan Perguruan Tamansiswa Mojokerto berharap sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter sekaligus pelestarian budaya bangsa di tengah perkembangan zaman,’’ tandas Ki Suradiyana. (rif/fen/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto