Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

42 SD Negeri di Mojokerto Alami Kekurangan Siswa

Indah Oceananda • Rabu, 15 Juli 2026 | 07:35 WIB
TETAP SEMANGAT: Pelaksanaan kegiatan MPLS di SDN Tawangrejo, Kecamatan Jatirejo, Selasa (14/7). Tahun ini, sekolah tersebut hanya menerima empat siswa baru. (Indah JPRM)
TETAP SEMANGAT: Pelaksanaan kegiatan MPLS di SDN Tawangrejo, Kecamatan Jatirejo, Selasa (14/7). Tahun ini, sekolah tersebut hanya menerima empat siswa baru. (Indah JPRM)

 -         Hanya Terima Murid Baru di Bawah 10 Anak

-         Dispendik Sebut Dipengaruhi Faktor Demografi 

KABUPATEN – Puluhan sekolah dasar negeri (SDN) di Kabupaten Mojokerto mengalami kekurangan jumlah siswa baru. Dari 385 sekolah, setidaknya 42 lembaga pendidikan negeri tingkat dasar tersebut hanya menampung murid baru tahun ajaran 2026/2027 di bawah 10 anak. Padahal, rombongan belajar (rombel) di setiap kelasnya ditentukan 28 siswa. 

Penurunan ini salah satunya dirasakan SDN Tawangrejo, Kecamatan Jatirejo. Mereka bahkan hanya mendapat empat murid. Jumlah tersebut merosot dibanding tahun ajaran sebelumnya 2025/2026. Kepala SDN Tawangrejo Henti Yanusri Mawar menuturkan, tahun ini sekolahnya memang hanya mendapat empat murid baru.

Perolehan ini menurun drastis jika dibandingkan tahun lalu, di mana SDN Tawangrejo mendapatkan 10 murid baru. ”Usia sekolah yang masuk SD sebenarnya ada lima, tapi yang satu, orang tuanya pindah. Jadi tahun ini hanya dapat empat anak,’’ katanya, kemarin (14/7). 

Dia menyebutkan, penurunan jumlah siswa baru tersebut terjadi bukan tanpa sebab. Kondisi demografi jumlah penduduk dan usia sekolah menjadi faktor utama penyebab berkurangnya siswa baru di sekolahnya yang meng-cover satu desa dengan dua dusun tersebut. ”Kalau tahun lalu masih bisa sampai sepuluh siswa baru. Tapi, sekarang lebih ke peningkatan kualitas bukan jumlahnya,” jelasnya. 

Kendati demikian, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk menjaring siswa baru jauh sebelum pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) digulirkan. Salah satu di antaranya menggunakan metode door-to-door atau mendatangi langsung rumah-rumah warga. ”Kami menanyakan ke keluarga yang sudah sekolah di sini, juga promosi ke TK. Tapi, keputusan tetap di orang tua,” katanya. 

Data Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Mojokerto menyebutkan, sejumlah SDN di Kabupaten Mojokerto sejauh ini masih mengalami fenomena minimnya mendapatkan murid baru di tahun ajaran 2026/2027. Bahkan, terdapat satu sekolah yang tidak satu pun mendapat murid baru selama pelaksanaan SPMB, yakni SDN Pandankrajan 1, Kecamatan Kemlagi. Dari 385 SD negeri, tercatat 42 lembaga pendidikan negeri tingkat dasar tersebut saat ini hanya menampung murid baru di bawah 10 anak. 

Sementara itu, Plt Sekretaris Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Mojokerto Mujiati menyatakan, jika dalam masa SPMB berlangsung, lembaga pendidikan di tingkat SD hanya mampu menampung murid baru di bawah 10 siswa, hal ini memang dapat dikatakan sekolah mengalami kekurangan siswa. ”Ya karena rombel di tingkat SD kan ditentukan 28 siswa per kelas,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, tadi malam. 

Akan tetapi, atas kondisi tersebut dispendik akan terus melakukan pemantau dan evaluasi di lapangan. Seperti mengawasi pelaksanaan MPLS maupun kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah. ”Meski di bawah sepuluh siswa atau bahkan satu siswa, guru tetap wajib melaksanakan kewajibannya mengajar. Karena KBM harus tetap berjalan,” terangnya. 

Ia menegaskan, kondisi demikian ini cenderung dipengaruhi beberapa faktor. Seperti demografi, persebaran penduduk, pilihan masyarakat, dan ketersediaan rombol lebih tinggi dari calon anak didik baru yang ditampung. ”Biasanya itu terjadi di kawasan-kawasan tertentu,” paparnya. 

Meski demikian, evaluasi lanjutan akan terus dilakukan dispendik pasca adanya sejumlah lembaga pendidikan negeri kekurangan hingga tak mendapat murid baru. Termasuk dengan adanya pendampingan kepada sekolah agar layanan pendidikan tetap berjalan dengan baik.

’’Hasil evaluasi ini juga akan menjadi bahan penyusunan kebijakan untuk memperkuat pemerataan layanan pendidikan di Kabupaten Mojokerto,’’ tambah Kepala Dispendik Kabupaten Mojokerto Amsar Azhari Siregar. (oce/ris)

 

 

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
mpls mojokerto sekolah kekurangan siswa sekolah minim siswa Sekolah mojokerto