Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Satu Sekolah Negeri di Mojokerto tanpa Kehadiran Siswa Baru

Moch. Chariris • Selasa, 14 Juli 2026 | 12:59 WIB
LENGANG: Suasana hari pertama masuk sekolah di SDN Pandankrajan 1, Kecamatan Kemlagi, kemarin (13/7). Guru kelas 1 terpaksa mengajar tanpa kehadiran siswa baru. (Indah JPRM)
LENGANG: Suasana hari pertama masuk sekolah di SDN Pandankrajan 1, Kecamatan Kemlagi, kemarin (13/7). Guru kelas 1 terpaksa mengajar tanpa kehadiran siswa baru. (Indah JPRM)

 

-         Terjadi di SDN Pandankrajan 1, Kemlagi

-         MPLS Digelar, Diikuti Siswa Kelas II-V 

 KABUPATEN - Hari pertama masuk sekolah biasanya identik dengan riuh suara murid baru dan ramainya orang tua mengantar anak-anak mereka. Namun, suasana berbeda justru terlihat di SDN Pandankrajan 1, Kecamatan Kemlagi, kemarin (13/7). Tak satupun bangku di ruang kelas I ini terisi oleh siswa baru.

Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto (JPRM), tak tampak derap langkah siswa yang memenuhi halaman sekolah seperti lazimnya hari pertama masuk tahun ajaran baru. Sebab, di tahun ajaran baru 2026/2027 ini, lembaga tersebut tidak mendapat satupun siswa baru.

Meski demikian, kondisi tersebut tak menyurutkan pihak sekolah untuk tetap menggelar Masa Pengenalan Lingkungan sekolah (MPLS). Justru, puluhan murid tetap khidmat mengikuti pembukaan kegiatan wajib tahun tersebut di halaman berlatar tanah. MPLS dialihkan untuk siswa kelas II-V dan hanya berlangsung selama tiga hari. 

Kepala SDN Pandankrajan 1 Juwono menceritakan, jika ada siswa baru, kegiatan MPLS harusnya bisa terlaksana selama lima hari. ”Karena MPLS-nya hanya untuk siswa kelas II hingga kelas V, jadi kita hanya menggelar selama tiga hari,” tuturnya. 

Juwono menjelaskan, kondisi tanpa siswa baru terjadi tahun ini. Minimnya anak usia sekolah SD di lingkungan sekitar jadi faktor utama lembaga pendidikan yang dinaunginya tak mendapatkan murid baru. ’’Kondisi ini sudah kami prediksi sebelum tahun ajaran baru, karena kami juga berkoordinasi dengan TK setempat. Memang anak usia sekolahnya di sini jarang,’’ imbuhnya.

Di sisi lain, terdapat dua lembaga pendidikan serupa yang berada di satu kawasan dan lokasinya saling berdekatan. Secara geografis, lokasi SDN Pandankrajan 1 diapit dua sekolah. Masing-masing SDN Pandankrajan 2 yang berjarak sekitar 400-500 meter dan madrasah ibtidaiyah (MI) swasta dengan jaraknya kurang lebih 600 meter. 

”Kondisinya, karena dalam satu desa ini ada tiga lembaga, SDN Pandankrajan 1, 2, dan MI. Kebetulan letaknya berdekatan, dan siswa dari TK tidak ada yang berdomisili di dekat sekolah ini,” terang pria 57 tahun ini.

Ia menjelaskan, tradisi masyarakat menyekolahkan anaknya ke lembaga pendidikan terdekat turut memengaruhi SDN Pandankrajan 1 tidak mendapatkan murid baru. 

Namun, ia mengaku tidak dapat berbuat banyak, lantaran menentukan pilihan sekolah adalah keputusan dari wali murid. ”Untuk calon siswa baru tahun ini memilih (sekolah) yang lebih dekat,” tambah warga Desa Beratkulon, Kecamatan Kemlagi, ini. 

Berdasarkan data, total siswa di lembaga pendidikan tersebut berjumlah 22 siswa. Rinciannya, 4 siswa di kelas II, 6 siswa kelas III, 7 siswa kelas IV, dan 5 peserta didik kelas V atau yang kini naik ke kelas VI. ”Totalnya 22 siswa, yang delapan siswa kemarin sudah lulus. Paling sedikit siswa kelas dua,” urainya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Mojokerto Amsar Azhari Siregar menuturkan, pihaknya terus memantau pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027 di seluruh satuan pendidikan. Termasuk terkait adanya lembaga pendidikan yang belum memperoleh peserta didik baru di tahun ini. ’’Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor. Bisa dari kondisi demografi, persebaran penduduk, dan pilihan masyarakat,’’ katanya. 

Ia menegaskan, evaluasi lanjutan terus dilakukan pasca adanya sejumlah lembaga pendidikan yang kekurangan siswa hingga tak mendapatkan murid baru. Termasuk dengan adanya pendampingan kepada sekolah yang bersangkutan, agar layanan pendidikan tetap berjalan dengan baik. 

’’Hasil evaluasi ini juga akan menjadi bahan penyusunan kebijakan untuk memperkuat pemerataan layanan pendidikan di Kabupaten Mojokerto,’’ imbuh Amsar. (ris)

 

 

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
mpls mojokerto sekolah tanpa siswa dispendik mojokerto Sekolah mojokerto