Acara ini juga menghadirkan Kepala BBPPMPV BOE Kemendikbud Dr Anwar Sidarta, S.Si, M.Si, dan Junaedy Alfan, founder Kampung IT Solo dan Konsultan Santripreneur, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdindik) Wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto Pinky Hidayati, S.Psi, M.Psi, serta undangan lain.
Para santri tidak hanya menerima ijazah. Mereka diperkenalkan sebagai penulis buku, peneliti, inovator, hingga diajak menjadi calon entrepreneur. Puluhan buku karya santri dipamerkan sebagai syarat kelulusan. Ada juga riset Sistem Keamanan Peringatan Dua Arah Berbasis Arduino dan Produk Natural Eco Soap dari eco enzyme, daun kelor dan lidah buaya. Ini bukti santri eLKISI dididik untuk jadi pelaku perubahan, bukan penonton.
Direktur PPIC eLKISI, Dr KH Fathur Rohman, M.Pd.I, menegaskan santri harus beradaptasi tanpa kehilangan identitas Islam. ’’Santri tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan. Santri harus menjadi pelaku perubahan, pencipta solusi, dan pemimpin masa depan. Tantangan ke depan menuntut santri berakhlak, berilmu, mandiri, produktif, tapi identitas Islam-nya tidak boleh lepas,’’ katanya.
Senada disampaikan Kepala BBPPMPV BOE Kemendikbud Dr Anwar Sidarta, S.Si, M.Si. Menurutnya hari ini bersejarah bagi para santri. Indonesia butuh SDM yang unggul intelektual, kuat akhlak dan integritas. Dr Anwar Sidarta menitipkan tiga pesan yakni pertama, jangan pernah berhenti belajar. Kelulusan bukan akhir. Kedua, pertahankan akhlak. Ilmu tanpa akhlak kehilangan arah. Ketiga, jadilah pribadi yang bermanfaat. ’’Ilmu harus memberi maslahat untuk umat. Jangan berhenti belajar, jaga akhlak, dan jadilah pribadi yang bermanfaat,’’ pungkasnya. (bas/fen)
Editor : Fendy Hermansyah