KAIRO – Langkah diplomasi keilmuan Markaz Lughoh eLKISI kembali menorehkan jejak istimewa. Sabtu, 23 Mei 2026 bertepatan dengan 6 Dzulhijjah 1447 H, para santri (thullab) Markaz Lughoh eLKISI mendapat kehormatan menghadiri ifthar jama’i bersama Markaz Tathwir Al-Azhar As-Syarief dan Muasasah An-Naf’u.
Undangan tersebut bukan sekadar agenda buka puasa bersama. Momentum itu menjadi cermin kedekatan dan kepercayaan yang terbangun antara eLKISI dan lembaga pengembangan resmi Al-Azhar. Sebuah pengakuan bahwa santri dari Mojokerto kini mulai menjadi bagian dari denyut nadi keilmuan Kairo.
Acara yang dipandu Dr. Husyam Syakir berlangsung khidmat dan penuh kehangatan. Para peserta disambut langsung oleh Prof. Dr. Nahlah Shabry Al Saidy bersama Dr. Ridho Abdus-Salam dan Direktur Muasasah An-Naf’u. Kehadiran para tokoh tersebut menegaskan posisi Markaz Lughoh eLKISI sebagai mitra pendidikan yang diperhitungkan di lingkungan Al-Azhar.
Dalam nasihatnya yang teduh namun menggetarkan, Prof. Dr. Nahlah Shabry Al Saidy menyambut para thullab sebagai ahlul ‘ilm. Ia mengajak seluruh peserta menghidupkan bulan Dzulhijjah dengan ketaatan dan taqarrub kepada Allah SWT.
Pesan paling mendalam yang disampaikan adalah tentang sosok Muslim paripurna.
Menurutnya, Muslim yang kuat bukan hanya tegap fisiknya, tetapi juga kokoh imannya, lurus amalnya, luas ilmunya, mulia akhlaknya, serta mandiri hartanya. Lima pilar tersebut dititipkan sebagai bekal penting bagi para penuntut ilmu dari eLKISI.
Malam itu, meja ifthar menjadi ruang perjumpaan ilmu dan hati. Tidak ada sekat antara ulama Al-Azhar dan santri Indonesia. Diskusi mengalir hangat, doa-doa terlantun, sementara suasana kebersamaan terasa syahdu. Inilah diplomasi paling elegan: menyatukan umat melalui adab, ilmu, dan keberkahan kebersamaan.
Bagi Markaz Lughoh eLKISI, momentum tersebut menjadi pintu menuju akses keilmuan yang lebih luas, jejaring ulama yang semakin kokoh, serta peluang kaderisasi menuju Al-Azhar yang semakin nyata. Dari ruang-ruang kelas di Mojokerto, eLKISI tengah merajut benang emas langsung menuju jantung peradaban Islam dunia.
Kedekatan dengan Markaz Tathwir Al-Azhar As-Syarief bukan hadir secara tiba-tiba. Hubungan itu merupakan buah dari keseriusan, konsistensi, dan visi besar eLKISI dalam melahirkan generasi yang berilmu, beradab, dan mendunia.
Dan pada malam 6 Dzulhijjah di Kairo itu, sebuah sejarah kecil kembali diukir. Bahwa santri Indonesia, santri eLKISI, layak duduk semajelis bersama para penjaga ilmu Al-Azhar. (*)