Kelulusan siswa SMA dan SMK di Mojokerto Raya telah diumumkan awal Mei lalu. Dari banyaknya lulusan sekolah menengah ini, tercatat sebanyak 3.714 fresh graduate belum bekerja. Jumlah tamatan SMA dan SMK tidak diimbangi ketersediaan lapangan kerja sehingga dikhawatirkan memicu lonjakan pengangguran.
ANGKA ini berdasarkan tracer study atau pelacakan jejak alumni oleh Cabdindik Jawa Timur Wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto per 30 Maret lalu. Terkonfirmasi sebanyak 7.204 tamatan SMA dan SMK dari 120 sekolah telah menentukan langkah pasca lulus maupun belum bekerja.
Sebanyak 1.174 atau 16,2 persen siswa terkonfirmasi melanjutkan studi perguruan tinggi dan kedinasan. Terdapat 49 orang atau 0,6 persen memilih ambil kursus terlebih dahulu. Ada 512 alumni atau 7,1 persen yang memutuskan berwirausaha. 1.755 lulusan atau 24,3 persen langsung bekerja sedangkan 3.714 fresh graduate atau 51,5 persen belum kerja.
’’Untuk pengisian tracer study sementara ini belum final atau selesai sepenuhnya. Karena pengisian data alumni ini dilakukan secara berkelanjutan sampai akhir Desember 2026,’’ ungkap Kasi SMK Cabdindik Jawa Timur Wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto Eko Heri Prihartono, kemarin (21/5).
DATA PASCA KELULUSAN SMA/SMK
| STATUS ALUMNI | JUMLAH | PROSENTASE |
| Belum Bekerja/Menganggur | 3.714 orang | 51,5 persen |
| Langsung Bekerja | 1.755 orang | 24,3 persen |
| Studi Lanjut (PT/Kedinasan) | 1.174 orang | 16,2 persen |
| Berwirausaha | 512 orang | 7,1 persen |
| Mengambil Kursus | 49 orang | 0,6 persen |
Sumber: Cabdindik Wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto, 2026
Eko memaparkan, data tracer study menjadi salah satu indikator kualitas lulusan SMA dan SMK. Data pelacakan alumni yang telah final nantinya akan digunakan untuk menyusun perbaikan pembelajaran di sekolah maupun regulasi. ’’Harapan kami para lulusan SMA dan SMK ini bisa menerapkan program bekerja, melanjutkan pendidikan, ataupun berwirausaha,’’ ungkapnya.
Cabdindik telah membekali para tamatan sekolah menengah tersebut dengan ilmu dan keterampilan yang bisa diterapkan pasca lulus. Mulai dari teaching factory atau model pembelajaran yang mengintegrasikan pendidikan dengan kegiatan industri nyata.
Juga, program one school one product yang melatih siswa terampil dalam produksi karya hingga memasarkannya. ’’Selain itu, sekolah juga melatih lulusan ini dengan life skill dengan terjun langsung di tengah masyarakat. Salah satunya dengan kegiatan sosial seperti pemeriksaan kesehatan gratis,’’ tandas Eko. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah