Tanpa Pendampingan Khusus, Aktivitas KBM Digabung Kelas Reguler
KABUPATEN - Empat siswa disabilitas di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Gedeg, Kabupaten Mojokerto terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas reguler. Hal ini, menyusul belum tersedia ruang kelas sekaligus pendamping khusus untuk mendukung kegiatan pembelajaran mereka.
Mereka belajar bersama peserta didik lain dalam satu ruang yang sama. Sedikitnya empat siswa penyandang disabilitas yang tercatat mengikuti program kejar paket, mulai paket B hingga paket C. Mayoritas mereka terdiri dari berbagai kondisi. Seperti speech delay atau slow learner.
Kepala SKB Gedeg Hatta Mustofa mengatakan, seluruh peserta didik diperlakukan setara tanpa perbedaan dalam proses belajar. ”Sementara ini semuanya ikut gabung dalam satu kelas yang sama dengan yang lain. Tidak ada perbedaan dalam pembelajaran,” ujarnya, kemarin (18/5).
Hatta menuturkan, semestinya mereka mendapatkan ruang kelas sekaligus guru pendamping khusus. Namun, karena minimnya fasilitas terkait hal tersebut, untuk sementara ini mereka terpaksa bergabung di kelas reguler dengan siswa lainnya.
’’Untuk pendamping khusus pun ya terpaksa harus dipandu guru yang ada. Karena untuk guru pendamping khusus disabilitas kita juga tidak ada,’’ bebernya.
Dia menambahkan, atas kondisi tersebut pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Mojokerto. Adapun setiap penerimaan peserta didik baru, baik pada paket A hingga paket C, SKB melakukan observasi awal guna memahami kondisi peserta didik. Pihaknya juga berkoordinasi dengan orang tua terkait penanganan yang telah dilakukan sebelumnya.
’’Kita juga berkonsultasi ke faskes terdekat untuk memantau perkembangan anak sekaligus melibatkan orang tua, agar bisa memahami kondisi anak bila di rumah,” katanya.
Kendati menghadapi berbagai tantangan, para pendidik di SKB Gedeg terus didorong untuk bersikap sabar dan konsisten dalam mendampingi peserta didik. Begitu pula kepada siswa, mereka diberikan motivasi agar tidak mudah menyerah serta terus mengembangkan keterampilan yang dimiliki.
’’Prioritas pertama, kami berupaya agar mereka tidak patah semangat dalam menuntut ilmu dan tetap bisa memiliki keterampilan yang bermanfaat di kemudian hari,” tandasnya. (oce/ris)
Editor : Fendy Hermansyah