KABUPATEN – Pelaksanaan outing class di Kabupaten Mojokerto kian beragam. Selain disuguhkan pesona wisata alam, budaya, religi, hingga sejarah, para siswa juga dikenalkan dengan permainan tradisional, seperti egrang dan bekiak.
Kepala Disbudporapar Kabupaten Mojokerto Ardi Sepdianto mengatakan, pelaksanaan outing class dengan sasaran destinasi wisata sejarah di bumi Majapahit belakangan ini kian berwarna. Para peserta didik yang hadir menikmati pembelajaran luar kelas tersebut disuguhkan berbagai budaya dan kearifan lokal. ’’Tidak sekadar menikmati objek wisata sejarah, para siswa juga diajarkan berbagai budaya dan kearifan lokal,’’ ungkapnya, kemarin (4/5).
Tidak sekadar Tari Bedoyo Putri Mojosakti, pada outing class yang digelar ini, pemda turut mengenalkan berbagai permainan tradisional yang belakangan mulai ditinggalkan di era digitalisasi sekarang ini. Seperti egrang dan bekiak. ’’Jadi, kita konsep belajar sambil bermain,’’ tegasnya.
Melalui permainan tradisional tersebut, karakter para siswa diharapkan bisa terbentuk sejak dini. Menurutnya, dua permainan ini cocok untuk pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK) dan projek penguatan profil pelajar Pancasila (P5) kurikulum merdeka bertema kearifan lokal. ’’Siswa jadi sehat karena banyak gerak, kompeten secara sosial karena harus kerja sama dan berkarakter, belajar pantang menyerah, dan gotong royong,’’ paparnya.
Sehingga, lanjut Ardi, bermain sambil belajar dianggap lebih bernilai dan hidup. Jauh lebih mengena daripada cuma ceramah di kelas. ’’Bisa melatih motorik dan keseimbangan. Jadi, kita hidupkan lagi permainan tradisional di kalangan siswa agar siswa tidak cuma kenal game HP, tetapi juga warisan nenek moyang,’’ jelas Ardi.
Menurutnya banyak dampak positif yang didapat atas kebijakan tersebut. Hal itu selaras dengan visi misi kepala daerah kaitannya dengan memasukkan muatan lokal sejarah Majapahit dalam pembelajaran. Di sisi lain, dipastikan akan berdampak pada peningkatan kunjungan wisata. ’’Implementasi ini tentu akan memperkuat branding destinasi wisata daerah. Lebih luas akan berdampak pada perekonomian warga dan pelaku UMKM di kawasan wisata,’’ tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Mojokerto Amsar Ashari Siregar mengatakan, pelaksnaan outing class kali ini memang menjadi tantangan bagi pemda untuk menyiapkan destinasi wisata yang bersaing dan mengedapankan unsur muatan lokal (mulok) kemajapahitan.
'’Bisa fragmen, tarian, atau semacamnya. Langkah ini sebagai upaya pemda mengenalkan lebih dalam terkait budaya dan sejarah lokal kepada peserta didik,’’ ungkapnya.
Terlebih, lanjut dia, prinsip outing class sendiri sebagai kegiatan pembelajaran edukatif, khususnya kaitannya dengan muatan lokal sejarah Majapahit dan esktrakurikuler. ’’Sehingga bukan semata kegiatan rekreasi,’’ tandasnya. (ori/ris)
Editor : Fendy Hermansyah