Ketua HIMPAUDI Kabupaten Mojokerto, Aslikhah Aziz, dalam sambutannya menegaskan bahwa semangat Kartini hari ini adalah memastikan guru PAUD non formal mendapat pengakuan yang setara.
"Guru PAUD non formal adalah garda terdepan pendidikan anak usia dini. Mereka mendidik di kelompok bermain dengan dedikasi penuh, tetapi masih menghadapi tantangan terkait status, insentif, dan jaminan perlindungan kerja," ujarnya.
Parade diikuti 1.445 guru PAUD non formal se-Kabupaten Mojokerto dengan mengenakan kebaya dan pakaian adat. Mereka membawa poster bertuliskan aspirasi, seperti "Guru PAUD Sejahtera, Anak Indonesia Bahagia" dan "Kesetaraan Hak untuk Pendidik Anak Usia Dini."
"Asa Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan kami lanjutkan hari ini. Kami memperjuangkan mereka yang mendidik generasi sejak usia emas. Kesetaraan bukan hanya untuk murid, tetapi juga untuk gurunya," tambah Aslikhah.
HIMPAUDI Kabupaten Mojokerto mendesak adanya kebijakan afirmatif dari pemerintah daerah, meliputi: Kesetaraan status dan kualifikasi guru PAUD non formal, Kesejahteraan melalui skema insentif yang layak dan berkelanjutan
Perlindungan dalam bentuk jaminan sosial serta kepastian hukum dalam bekerja
"Jika guru PAUD kuat dan terlindungi, maka fondasi karakter anak Indonesia juga akan kuat. Ini investasi bangsa yang tidak bisa ditunda," tegasnya.
Dari total 1.543 pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) PAUD non formal di Kabupaten Mojokerto, sebanyak 972 PTK telah menerima insentif sebesar Rp250.000 per bulan. HIMPAUDI berharap ke depan insentif tersebut dapat diberikan secara merata kepada seluruh pendidik yang telah mengabdikan diri.
Melalui Parade Kartini ini, HIMPAUDI berharap suara guru PAUD non formal dapat didengar dan menjadi prioritas dalam pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Mojokerto. (bas/fen)
Editor : Fendy Hermansyah