Makanan merupakan kebutuhan dasar manusia yang sangat penting untuk kelangsungan hidup, sekaligus sebagai sumber energi dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, baik fisik maupun biologis. Makanan yang dikonsumsi harus sehat, yaitu memiliki kandungan gizi yang lengkap seperti vitamin, karbohidrat, protein, lemak, dan zat gizi lainnya.
Selain itu, makanan juga harus aman, tidak mengandung bahan berbahaya, serta diolah dengan cara yang bersih dan higienis. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan memiliki tujuan membentuk santri yang berakhlak baik dan memiliki kecerdasan. Santri yang tinggal di pesantren juga membutuhkan perhatian dalam hal pertumbuhan dan kesehatan, sama seperti siswa di sekolah umum, karena mereka merupakan generasi penerus bangsa.
Salah satu hal penting yang mendukung kesehatan santri adalah terpenuhinya kebutuhan gizi seimbang. Asupan gizi yang cukup sangat berpengaruh terhadap kesehatan, daya tahan tubuh, serta kemampuan santri dalam belajar dan beribadah. Di samping itu, kebersihan makanan juga menjadi hal yang sangat penting. Makanan yang tidak higienis dapat menjadi penyebab penyakit. Dalam ajaran Islam juga dijelaskan bahwa kebersihan merupakan bagian dari iman, sebagaimana dalam hadits ”An-nadhafatu minal iman”. Oleh karena itu, pengelolaan makanan di pondok pesantren harus diperhatikan dengan baik, mulai dari pemilihan bahan, proses memasak, penyajian, hingga penyimpanan. Hal ini bertujuan agar makanan yang dikonsumsi tetap sehat, aman, dan bergizi.
Baca Juga: Legenda Sumur Upas dan Ruang Rahasia di Bawah Tanah Situs Kerajaan Majapahit.
Penelitian sebelumnya juga membahas tentang penerapan kebersihan dan sanitasi dalam pengolahan makanan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penerapan higiene dan sanitasi belum sepenuhnya sesuai standar, karena masih terdapat beberapa masalah, seperti penyimpanan bahan makanan, proses pengangkutan, serta penyimpanan makanan yang sudah jadi yang berisiko menyebabkan kontaminasi. Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan dalam menjaga kebersihan makanan, karena makanan sangat mudah menjadi media penyebaran penyakit (foodborne disease), baik dari pekerja maupun dari makanan itu sendiri.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Analisis dilakukan melalui wawancara yang dilaksanakan di dapur putra dan dapur putri Pondok Pesantren Nurul Islam. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa narasumber utama adalah Ustadz Fahrudin Bisri, S.Pd. Struktur dapur terdiri dari kepala logistik yaitu Akmal Fadhili, S.Pd, kepala dapur yaitu Fahrudin Bisri, S.Pd, serta anggota yang berasal dari para ustadz pondok. Kegiatan memasak dilakukan tiga kali sehari, yaitu pagi pukul 05.00, siang pukul 12.00, dan malam pukul 17.30.
Proses distribusi makanan dilakukan dengan mengantarkan makanan ke setiap kamar menggunakan termos, sedangkan pembagian nasi dilakukan secara terpisah. Pengelolaan distribusi dibantu oleh beberapa tim, yaitu ARKAP dengan ketua Yamin Mualim dan wakil Radit, SEPIN dengan ketua Kurchi Fadhil dan wakil Rehan, serta TAWAKA dengan ketua Nidhom dan wakil Aan. Dalam pengambilan nasi, santri diwajibkan menggunakan kartu identitas (ID card), dan setiap kamar akan didata agar semua santri mendapatkan jatah. Jika masih kurang, santri diperbolehkan mengambil tambahan di dapur. Dari hasil wawancara juga diketahui bahwa makanan yang disediakan sudah terjamin kebersihan, kehigienisan, dan kehalalannya, karena adanya sistem pengelolaan yang teratur mulai dari persiapan hingga proses memasak.
Baca Juga: Kuliner Legendaris Mojokerto: Rahasia Kelezatan Sate Kelapa yang Bertahan Puluhan Tahun
Menu makanan yang disediakan untuk santri putri selama satu minggu cukup bervariasi, seperti tahu goreng, tahu bumbu kuning, tempe balado, sayur sup, sayur kangkung, sayur bening, dan terong balado yang disajikan pada waktu pagi, siang, dan malam secara bergantian setiap harinya. Sementara itu, menu makanan untuk santri putra juga beragam, di antaranya tahu goreng, tempe goreng, tempe balado, sayur kangkung, sayur bening, kuah rawon, serta terong goreng yang disajikan secara terjadwal setiap hari.
Setelah dilakukan penelitian, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan makanan di dapur Pondok Pesantren Nurul Islam 2 sudah cukup baik, terutama dari segi kebersihan, kehigienisan, kesucian, dan kehalalannya. Sistem distribusi makanan juga sudah teratur sehingga semua santri mendapatkan jatah yang cukup. Hal ini dapat mengurangi kemungkinan adanya santri yang kekurangan makanan.
Makanan yang disajikan sudah juga memenuhi standar kebersihan karena adanya kedisiplinan dalam menjaga kebersihan dapur, mencuci bahan makanan dengan baik, serta proses memasak yang teratur sebelum disajikan. Penyiapan makanan juga dilakukan secara terjadwal, yaitu tiga kali sehari (pagi, siang, dan malam), sehingga kebutuhan konsumsi santri dapat terpenuhi dengan baik. (*)
*) 9 Social Class MTs 2 Nurul Islam Mojokerto
Pembimbing: Inayatu Khoirul Magfiroh, M.Pd
Editor : Imron Arlado