Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Peran Teman Sebaya dalam Menumbuhkan Nilai Toleransi Antaranggota Santri

Imron Arlado • Senin, 20 April 2026 | 11:23 WIB
Oleh: Anesty Septya Fitri Purnomo, Camelia Angel, dan Nabila Salwa Khairunnisa (Ok-ris)
Oleh: Anesty Septya Fitri Purnomo, Camelia Angel, dan Nabila Salwa Khairunnisa (Ok-ris)

JAWA POS RADAR MOJOKERTO- Nilai toleransi antaranggota merupakan sikap penting yang harus ditanamkan dalam diri sendiri maupun kepada orang lain. Hal ini sangat diperlukan karena kita harus membiasakan diri untuk bergaul dengan teman yang memiliki perbedaan suku, agama, ras, budaya, dan latar belakang. Analisis ini difokuskan pada siswi kelas 8 S-C agar mereka mampu menerapkan sikap toleransi dengan baik dan benar, seperti hidup rukun di dalam kelas, bergaul tanpa memilih teman, dan saling menghargai satu sama lain. 

Teman sebaya dalam penelitian ini adalah siswi kelas 8 S-C di MTs 2 Nurul Islam. Mereka memiliki latar belakang yang beragam sehingga menarik untuk diteliti. Kelas 8 S-C terdiri dari 33 siswi yang berasal dari berbagai daerah, seperti Mojokerto, Sidoarjo, Surabaya, Gresik, dan daerah lainnya. Nilai toleransi di Indonesia berlandaskan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu”. Dari makna tersebut, kita belajar bahwa walaupun berasal dari latar belakang yang berbeda, kita tetap harus bersatu dan saling menghargai agar tercipta suasana yang aman, damai, dan terhindar dari konflik.

Nilai toleransi sendiri dapat diartikan sebagai sikap menghargai dan menghormati perbedaan, baik perbedaan suku, agama, ras, budaya, maupun pendapat dalam kehidupan sehari-hari. Adapun aspek-aspek toleransi antaranggota santri meliputi sikap saling menghargai, saling menghormati, tidak membeda-bedakan teman, serta mampu bekerja sama meskipun terdapat perbedaan.

Baca Juga: SMPN 2 Ngoro Mencetak Jurnalis Muda lewat Workshop Jurnalistik

Dalam penelitian ini, kegiatan dilakukan kepada teman sebaya santri melalui observasi dan wawancara di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Islam. Hasil wawancara menunjukkan bahwa cara menerapkan sikap toleransi adalah dengan menghargai teman yang berasal dari daerah berbeda, menghargai pendapat orang lain, serta menerima pendapat dengan lapang dada. Siswi yang dinilai mampu menerapkan toleransi dengan baik adalah seluruh anggota kelas 8 S-C, terutama beberapa siswi seperti Yasmin dan Fany. 

Sikap toleransi dapat diterapkan kapan saja dan di mana saja, baik di sekolah, asrama, tempat ibadah, maupun di lingkungan umum. Hal yang mendorong mereka menerapkan toleransi adalah adanya kesadaran untuk menghargai perbedaan. Selain itu, mereka juga memahami bahwa sikap toleransi perlu dikembangkan agar tidak terjadi perpecahan atau konflik akibat perbedaan.

Baca Juga: Rekomendasi Tempat Nongkrong Bernuansa Alam di Trawas dengan Pemandangan Pegunungan

Dari hasil wawancara dengan tiga narasumber siswi kelas 8 S-C, terlihat adanya peningkatan sikap toleransi yang cukup signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa peran teman sebaya sangat penting dalam menanamkan nilai toleransi antarsantri. Contohnya, Fany menunjukkan sikap toleransi dengan membantu teman yang belum bisa membaca. Bunga menerapkan toleransi dengan menghargai pendapat teman saat musyawarah di kamar. Sementara itu, Yasmin menunjukkan sikap toleransi dengan menghargai teman yang berasal dari daerah yang berbeda. Dari contoh tersebut dapat dipahami bahwa sikap saling membantu, menghargai, dan menghormati merupakan bentuk nyata dari toleransi yang baik.

Penelitian serupa juga pernah dilakukan oleh peneliti lain mengenai peran teman sebaya dalam penyesuaian diri santri putri di Pondok Pesantren Al-Huda Bonggah, Ploso, Nganjuk. Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Tujuannya adalah untuk mengetahui proses penyesuaian diri santri putri, hasil dari proses tersebut, serta peran teman sebaya dalam membantu penyesuaian diri. Subjek penelitian berjumlah 6 santri putri, terdiri dari perwakilan masing-masing kompleks dan pengurus.

Baca Juga: Profil Atlet Asal Mojokerto yang Mengharumkan Nama Daerah di Kancah Nasional dan Internasional

Kesimpulannya, peran teman sebaya dalam kehidupan sehari-hari sangat penting dalam menumbuhkan nilai toleransi antarsesama santri. Sikap ini harus selalu diterapkan di mana pun dan kapan pun, baik di kelas maupun di asrama. Dari penelitian ini dapat dipahami bahwa meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, kita harus tetap menjaga persatuan agar tercipta suasana yang damai dan harmonis. Bentuk sikap toleransi yang terlihat di antaranya adalah hidup rukun di dalam kelas, bergaul tanpa memilih teman, tidak saling mem-bully, serta saling menghargai. Dengan demikian, teman sebaya memiliki peran besar dalam membentuk sikap toleransi yang baik dalam kehidupan sehari-hari. (*)

*) 9 Social Class MTs 2 Nurul Islam Mojokerto

Pebimbing: Inayatu Khoirul Magfiroh, M.Pd

 

Editor : Imron Arlado
#mts 2 nurul islam mojokerto #teman sebaya #santri #toleransi