Tak sekadar diajak memahami unsur-unsur dasar penulisan berita, para siswa secara langsung diajak menjadi jurnalis secara singkat. Mereka diminta berkelompok untuk simulasi menjadi salah satu keredaksian media massa yang memberitakan peristiwa di sekitar. Para siswa membuat karya jurnalistik berupa narasi berita sekaligus wawancara dengan narasumber melalui video. ”Menjadi wartawan itu penuh risiko, namun sangat mulia jika dilakukan dengan benar,’’ ujar Chariris.
Dalam kesempatan yang sama, Chariris menyampaikan pelatihan ini tidak hanya membekali peserta melalui keterampilan dasar-dasar ilmu jurnalistik. Tetapi juga mengajarkan cara menulis branding sekolah, mempromosikan lembaga pendidikan, serta mengemas profil dan inovasi sekolah dalam bentuk berita. ’’Lewat simulasi yang sudah dilakukan anak-anak, membuktikan bahwa menjadi jurnalis dalam waktu 60 menit itu bukanlah hal yang mustahil,’’ paparnya.
Dengan pelatihan tersebut, siswa diharapkan mampu membedakan informasi valid dan hoaks serta menjadi pengguna media sosial yang cerdas. Melalui kegiatan ini, lanjut dia, siswa tidak hanya berperan sebagai konsumen informasi, tetapi juga sebagai produsen konten yang informatif dan edukatif. ’’Pelatihan ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap kritis, kreatif, serta meningkatkan literasi digital di kalangan pelajar,’’ tandasnya. (oce/ris)
Editor : Fendy Hermansyah