KABUPATEN - Dinas Pendidikan (Dispendik) bersama Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Mojokerto melakukan inventarisasi terhadap siswa terdampak keracunan massal diduga usai menyantap menu soto MBG. Pendataan ini dilakukan di lembaga pendidikan yang terdampak peristiwa tersebut. Meliputi, SDN Singowangi, SMPN 2 Kutorejo, SDN Wonodadi 1 dan 2. Kemudian di TK Plus Al Hidayah, SMP TI Al Hidayah, MTs Mahad Annur, MA Mahad Annur, serta MA Berlian.
Plt Kepala Dispendik Kabupaten Mojokerto Yoi’e Afrida Soesetyo Djati mengatakan, kemarin (12/1) pihaknya tengah mendatangi sejumlah sekolah yang terdampak untuk melakukan inventarisasi siswa yang tidak masuk sekolah akibat kejadian tersebut. ’’Sampai dengan hari ini (kemarin, Red) saya minta laporan tertulis berapa siswa yang belum masuk dan kepala sekolah melakukan monitoring, untuk pembelajaran anak-anak (terdampak) yang tidak masuk sekolah agar disesuaikan,” ujarnya.
Dispendik bersama lembaga pendidikan terus menelusuri terkait adanya siswa yang tidak mengonsumsi MBG, dan membawanya pulang untuk diberikan orang tuanya. Ia membenarkan, beberapa wali murid turut terdampak akibat mengonsumsi makanan yang dibawa para siswa itu ke rumah. ”Kita lakukan inventarisasi siapa saja siswa yang terdampak, termasuk (MBG) yang tidak dimakan dan dibawa pulang. Ternyata orang tuanya (wali murid) juga ada yang terdampak,’’ bebernya.
Saat peninjauan kemarin, Yoi’e menyebut, sistem pembelajaran di sekolah tetap berjalan normal. Namun, bagi siswa terdampak sehingga tidak masuk sekolah mendapat dispensasi dan pembelajaran susulan. ”Kalau memang kondisional, kesehatan diutamakan. Proses pembelajaran harus tetap berjalan. Menjadi evaluasi kita bersama agar ke depan benar-benar bisa menjadi sekolah yang aman bagi anak,’’ ulasnya.
Di sisi lain, ia mengimbau agar lembaga yang terdampak meningkatkan kualitas kesehatan kantin sekolah. Hal itu sebagai cadangan bagi siswa yang tidak membawa bekal dari rumah, mengingat saat ini operasional SPPG berhenti beroperasional sementara waktu. ’’Saya minta kantin sekolah tetap dijaga kualitas dan kesehatannya sebagai jaga-jaga bagi siswa yang tidak bawa bekal,’’ imbuh dia.
Kepala Kemenag Kabupaten Mojokerto Muttakin menambahkan, pihaknya juga tengah menginventarisasi korban terdampak keracunan massal yang disinyalir dari menu MBG tersebut. Di sisi lain, kemenag meminta pendataan madrasah maupun pondok pesantren (ponpes) yang hingga saat ini belum menerima program MBG. ’’Saya minta ke bidang pendidikan madrasah (Pendma) dan pendidikan diniyah pondok pesantren (PD Pontren) untuk mendata madrasah mana saja yang belum menerima MBG,’’ ulasnya.
Bagi korban terdampak, Muttakin memastikan saat ini semua sudah mendapat penanganan medis dari fasyankes terdekat. Kemenag selalu berkoordinasi dengan dinkes untuk memantau kondisi para korban. ’’Untuk inventarisasi khusus korban yang saat ini terdampak difokuskan koordinasi dengan dinkes. Karena prinsipnya, insya Allah semua sudah ditangani di puskesmas maupun rumah sakit,’’ tandasnya. (oce/ris)
Editor : Fendy Hermansyah