KUTOREJO - Sebanyak 152 siswa dan santri di Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto terpaksa mendapat perawatan intensif lantaran diduga mengalami keracunan selepas mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Sabtu (10/1). Mereka mengeluhkan mual, muntah, pusing, lemas, hingga diare usai menyantap soto ayam yang didapat dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 03, Jumat (9/1).
Ratusan siswa dan santri tersebut berasal dari 7 lembaga pendidikan tingkat SMP/MTs dan SMA/MA. Mereka berasal dari Pondok Pesantren (Ponpes) Teknologi Informasi Al Hidayah Desa Wonodadi, Ponpes Mahad An Nur Desa Singowangi, serta SMPN 2 Kutorejo. Hingga berita ditulis, Sabtu (10/1) petang, ratusan pelajar dan santri ini dirawat di tiga puskesmas dan satu rumah sakit, mulai dari Puskesmas Kutorejo, Gondang, dan Pacet serta belasan ke RSUD Prof. dr. Soekandar Mojosari.
Selain itu, sebanyak 92 santri yang terpaksa dirawat di Ponpes Mahad An Nur yang sejak kemarin dijadikan Posko Pelayanan Kesehatan guna efektifitas penanganan. ’’Yang terdampak ada 152 anak. Memang kami pusatkan di pondok untuk memudahkan penanganan. Ada beberapa yang dirujuk ke rumah sakit karena kondisi yang butuh perawatan lebih lanjut,’’ ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto Dyan Anggrahini Sulistyowati.
Pihaknya mengaku belum bisa memastikan penyebab ratusan siswa dan santri ini apakah karena keracunan paket MBG atau justru ada sebab lain. Pihaknya masih butuh waktu untuk mendalaminya dengan menguji sampel makanan dari SPPG. Kemarin, sampel makanan dari SPPG yang dikelola Ponpes Al Hidayah, Desa Wonodadi telah diambil dan dalam pemeriksaan tim Labkesda Kabupaten Mojokerto. ’’Untuk hasil uji laboraturium baru bisa kami keluarkan hari Rabu (14/1). Sampel makanannya dari bank sampel SPPG yang sudah disisihkan,’’ tambahnya.
Peristiwa siswa dan santri yang diduga keracunan MBG turut diatensi TNI, kepolisian hingga Badan Gizi Nasional (BGN). Kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, Komandan Kodim 0815 Mojokerto Letkol Inf Abi Swanjoyo memerintahkan anggotanya untuk turut menginvestigasi peristiwa tersebut. Termasuk menghentikan sementara operasional SPPG sampai proses evaluasi selesai dan menemukan titik terang.
Pihaknya mengaku juga tak segan memproses hukum jika memang terdapat unsur pidana dari peristiwa ini. Termasuk memberikan kewenangan kepada kepolisian jika terdapat unsur kelalaian. ’’Sanksinya kita lihat, jika ada unsur kelalaian dan ada unsur pidana, otomatis harus kita proses secara tegas,’’ imbuhnya.
Meski demikian, Letkol Inf Abi menegaskan yang terpenting saat ini adalah fokus terhadap penanganan medis terhadap korban. Yakni, seluruh unsur dipusatkan pada pemulihan kesehatan para siswa dan santri agar bisa kembali belajar seperti sedia kala. ’’Kami saling melengkapi baik dari tim forensik kepolisian, Dinkes dan BGN. Alhamdulillah penanganan dari dinas kesehatan sudah cepat dan membuka posko pengaduan. Serta BGN akan menangggung seluruh biaya pengobatan,’’ terangnya. (far/fen)
Editor : Fendy Hermansyah