Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Dampak Perceraian Orang Tua terhadap Anak Usia Remaja

Indah Oceananda • Rabu, 24 Desember 2025 | 00:59 WIB

Vina Efendi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang
Vina Efendi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang
Oleh: Vina Efendi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

PERCERAIAN orang tua di Indonesia semenjak Covid-19 semakin sering terjadi dan perlahan dianggap sebagai hal yang biasa dalam kehidupan sosial. Di balik keputusan orang dewasa untuk berpisah, terdapat pihak yang sering kali tidak memiliki ruang suara, yaitu anak.

Terutama bagi anak yang berada pada usia remaja, perceraian bukan sekadar urusan hukum antara ayah dan ibu, melainkan peristiwa sosial yang dapat mengguncang emosi, cara berpikir, dan hubungan mereka dengan lingkungan sekitar. Masa remaja merupakan fase pencarian jati diri yang membutuhkan stabilitas, sehingga perpisahan orang tua kerap meninggalkan luka yang tidak selalu terlihat.

Remaja dari keluarga bercerai lebih rentan mengalami tekanan emosional, seperti kecemasan, kesepian, dan stres berkepanjangan. Ketika struktur keluarga berubah, mereka kehilangan rasa aman yang sebelumnya menjadi tempat bergantung. Tidak jarang, kondisi ini berdampak pada penurunan prestasi akademik serta kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat. Dalam situasi tertentu, remaja bahkan mencari kasih sayang di luar keluarga karena merasa kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi.

Padahal, keluarga merupakan lembaga sosial pertama yang mengajarkan nilai, norma, dan kasih sayang. Ketika fungsi tersebut melemah, dampaknya dapat merambat ke berbagai aspek kehidupan anak. Jika dilihat melalui perspektif fungsionalisme Emile Durkheim, keluarga memiliki peran penting dalam menjaga keteraturan sosial.

Keluarga berfungsi sebagai sarana integrasi moral dan pengendalian perilaku. Perceraian dapat dipahami sebagai perubahan struktural yang mengganggu fungsi tersebut. Ketika integrasi keluarga melemah, remaja berisiko mengalami disfungsi sosial dan kehilangan pedoman norma.  Kondisi ini mendekati apa yang disebut Durkheim sebagai anomie, yaitu keadaan ketika individu merasa bingung dan tidak memiliki arah yang jelas dalam menjalani kehidupannya.

Melemahnya pengawasan dan kontrol sosial dalam keluarga pascaperceraian juga dapat memengaruhi perilaku remaja. Sebagian remaja menjadi lebih sulit diatur, mengalami penurunan motivasi belajar, atau bahkan terjerumus pada perilaku menyimpang. Namun, menyederhanakan perceraian sebagai penyebab tunggal dari seluruh masalah remaja juga bukan sikap yang adil.

Dalam beberapa kondisi, perceraian justru menjadi jalan keluar dari rumah tangga yang penuh konflik. Bagi remaja yang sebelumnya hidup dalam tekanan pertengkaran orang tua, perceraian dapat menghadirkan ketenangan emosional dan lingkungan yang lebih aman.

Tidak sedikit pula remaja yang tumbuh menjadi pribadi lebih mandiri, empatik, dan matang setelah orang tuanya berpisah. Mereka belajar memahami emosi diri sendiri, menghargai perasaan orang lain, serta menyadari pentingnya komunikasi yang sehat. Hal ini menunjukkan bahwa dampak perceraian tidak bersifat tunggal dan mutlak, melainkan sangat dipengaruhi oleh bagaimana orang tua mengelola proses perpisahan tersebut.

Pada akhirnya, perceraian orang tua tidak secara otomatis menentukan kegagalan masa depan anak. Yang lebih menentukan adalah sejauh mana orang tua tetap hadir secara emosional, menjaga komunikasi yang sehat, dan mengurangi konflik yang melibatkan anak. Dukungan dari keluarga besar, sekolah, dan lingkungan sosial juga menjadi faktor penting dalam membantu remaja melewati fase sulit ini. Jika fungsi keluarga yang hilang dapat digantikan melalui mekanisme sosial lain, maka remaja memiliki kesempatan untuk bangkit dan berkembang menjadi individu yang lebih kuat dan resilien. (*)

 

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#opini mahasiswa #jawa pos radar mojokerto