Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Solidaritas Masyarakat Indonesia dalam Merespons Bencana Banjir Sumatera: Perspektif Teori Emile Durkheim

Indah Oceananda • Kamis, 18 Desember 2025 | 11:00 WIB

 

NAAFI’ALI (202510040110051)    Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Malang
NAAFI’ALI (202510040110051) Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Malang
Oleh : NAAFI’ALI (202510040110051)  

Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Malang

BENCANA banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera kembali menjadi pengingat akan kerentanan masyarakat Indonesia terhadap bencana alam. Curah hujan tinggi, luapan sungai, serta kerusakan lingkungan menyebabkan ribuan warga terdampak, kehilangan tempat tinggal, dan mengalami gangguan aktivitas ekonomi maupun sosial.

Di tengah situasi tersebut, muncul gelombang bantuan dari berbagai kalangan masyarakat Indonesia yang mencerminkan kuatnya nilai solidaritas sosial. Fenomena ini dapat dianalisis melalui perspektif teori sosiologi Emile Durkheim, khususnya konsep solidaritas sosial.

Bantuan dari Berbagai Kalangan Masyarakat

Respons terhadap bencana banjir di Sumatera tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dari berbagai lapisan masyarakat. Organisasi kemanusiaan, mahasiswa, komunitas lokal, tokoh agama, pelaku usaha, hingga masyarakat umum turut berperan aktif dalam upaya penanggulangan bencana. Bantuan yang diberikan beragam, mulai dari penggalangan dana, pengiriman logistik seperti makanan, pakaian, dan obat-obatan, hingga tenaga relawan yang terjun langsung ke lokasi bencana.

Di era digital, media sosial juga menjadi sarana penting dalam menyebarkan informasi dan mengoordinasikan bantuan. Kampanye donasi daring mempercepat arus solidaritas, memungkinkan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia untuk berkontribusi meskipun berada jauh dari lokasi bencana. Hal ini menunjukkan bahwa rasa kepedulian sosial tidak dibatasi oleh jarak geografis.

Teori Solidaritas Sosial Emile Durkheim

Emile Durkheim, seorang sosiolog klasik, membagi solidaritas sosial menjadi dua bentuk utama, yaitu solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Solidaritas mekanik umumnya ditemukan dalam masyarakat tradisional yang memiliki kesamaan nilai, norma, dan kepercayaan. Sementara itu, solidaritas organik berkembang dalam masyarakat modern yang ditandai oleh pembagian kerja dan saling ketergantungan antarindividu.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, respons terhadap bencana banjir di Sumatera mencerminkan kombinasi kedua bentuk solidaritas tersebut. Solidaritas mekanik terlihat dari dorongan moral dan empati kolektif sebagai sesama bangsa yang merasakan penderitaan bersama. Nilai kemanusiaan, gotong royong, dan rasa senasib sepenanggungan menjadi dasar munculnya bantuan spontan dari masyarakat.

Di sisi lain, solidaritas organik tercermin dalam peran masing-masing kelompok sesuai dengan fungsi dan keahliannya. Pemerintah bertindak sebagai koordinator kebijakan dan penyalur bantuan resmi, organisasi kemanusiaan mengelola distribusi logistik, tenaga medis memberikan pelayanan kesehatan, sementara masyarakat dan relawan berkontribusi sesuai kemampuan mereka. Pembagian peran ini menunjukkan adanya ketergantungan sosial yang memperkuat integrasi masyarakat dalam menghadapi krisis.

Bencana sebagai Penguat Integrasi Sosial

Menurut Durkheim, peristiwa-peristiwa kolektif, termasuk krisis dan bencana, dapat memperkuat kesadaran kolektif (collective conscience) dalam masyarakat. Banjir di Sumatera menjadi momen di mana perbedaan latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya sementara dikesampingkan demi tujuan bersama, yaitu membantu sesama manusia. Solidaritas yang muncul tidak hanya bersifat praktis, tetapi juga simbolik, karena menegaskan kembali nilai-nilai sosial yang menjadi perekat masyarakat Indonesia.

Penutup

Bantuan dari berbagai kalangan masyarakat Indonesia terhadap bencana banjir di Sumatera menunjukkan bahwa solidaritas sosial masih menjadi kekuatan utama dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui kacamata teori Emile Durkheim, fenomena ini dapat dipahami sebagai wujud solidaritas mekanik dan organik yang bekerja secara bersamaan. Bencana, meskipun membawa penderitaan, juga membuka ruang bagi penguatan integrasi sosial dan kesadaran kolektif, yang pada akhirnya memperkokoh persatuan masyarakat Indonesia. (*)

 

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#opini mahasiswa #radar mojokerto #jawa pos