Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

TikTok Live: Ritual Digital Pengganti Kebersamaan Fisik yang Hilang

Indah Oceananda • Rabu, 17 Desember 2025 | 01:11 WIB

 

Muhammad Bagas Habibur Rozaq mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang
Muhammad Bagas Habibur Rozaq mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang
Oleh: Muhammad Bagas Habibur Rozaq*)

 

MASYARAKAT sebagai makhluk sosial berarti manusia secara kodrati membutuhkan manusia lain untuk hidup, tidak bisa sendiri. Karena interaksi sosial, kerja sama, dan pembentukan norma, nilai, serta budaya menjadi esensial untuk memenuhi kebutuhan dasar, emosional, dan mengembangkan potensi diri, membentuk ikatan seperti keluarga hingga kelompok yang lebih besar.

Salah satu tren yang kembali menjadi pusat perhatian pada tahun 2025 adalah Tiktok live. Kalau kita lihat sekilas, Tiktok live cuma tempat orang siaran untuk hiburan atau cari popularitas. Tapi, kalau kita amati lebih dalam, lewat kacamata sosiologi dan antropologi, ada cerita lebih besar di baliknya. Tiktok live sebenarnya jadi ritual zaman now yang menggantikan kebiasaan kumpul-kumpul fisik yang makin susah kita lakukan.

Ia adalah respons alami manusia yang butuh bersosialisasi, saat cara lama mulai berubah. Dulu, kita punya banyak acara kumpul yang bikin kita akrab: nongkrong di warung kopi, arisan RT, atau sekadar duduk-duduk di teras rumah. Itu adalah ritual sosial kegiatan berulang yang mempererat hubungan. Sekarang, kesibukan kerja, hidup sendiri di kota, dan kebiasaan sibuk dengan gadget bikin acara kumpul fisik makin jarang.

Ditambah lagi, pandemi Covid -19 dulu memaksa kita jaga jarak, dan kebiasaan itu sebagian masih terbawa. Di sinilah Tiktok live masuk. Ia jadi "warung kopi virtual" yang buka 24 jam. Polanya mirip: ada pembuka ("Halo semuanya, selamat datang!"), sesi inti (ngobrol, nyanyi, masak), dan penutup. Komentar yang ramai dan "gift" (hadiah digital) yang dikirim penonton berfungsi seperti anggukan, tawa, atau tanda perhatian dalam obrolan langsung.

Dari sisi ilmu sosial, Tiktok live berfungsi seperti obat rasa sepi. Banyak orang, terutama di perkotaan, merasa terisolasi meskipun dikelilingi banyak orang. Masuk ke live streaming yang asyik, mendengar suara host yang ramah, membuat mereka merasa tetap ada teman. Bagi yang siaran, ini adalah cara dapat pengakuan dan rasa dihargai. Mekanisme "gift" menarik untuk dilihat. Memberikan koin atau hadiah digital itu bukan sekadar transaksi jual-beli hiburan. Itu adalah cara modern "sumbangan" untuk menjaga hubungan. Mirip seperti saat kita traktir teman nongkrong, lalu dia balas lain waktu. Di Tiktok live, hadiah digital ditukar dengan penyebutan nama, ucapan terima kasih, dan rasa keterikatan. Ini membangun komunitas mikro yang punya aturannya sendiri.

Tapi, seperti semua hal di dunia digital, ada sisi gelapnya juga. Pertemanan di sini sering kali bersifat dangkal dan sementara. Keakraban yang terbentuk bisa langsung hilang begitu live berakhir atau ketika trending topik berganti. Hubungan juga jadi serba diukur oleh materi digital siapa yang kirim gift besar dapat perhatian lebih. Ini disebut komodifikasi, di mana nilai pertemanan bisa direduksi jadi angka dan nominal uang. Selain itu, algoritma Tiktok yang menentukan siapa yang tampil di "utama" bisa bikin tekanan tersendiri. Host bisa merasa harus terus siaran dan mencari cara biar viral, yang kadang mengorbankan keaslian interaksi.

Namun, terlepas dari semua kekurangannya, Tiktok Live tetaplah bukti bahwa manusia adalah makhluk sosial yang selalu beradaptasi. Kita kehilangan ruang kumpul fisik, lalu kita menciptakan ruang baru dengan alat yang ada. Ritual sosial tidak hilang, ia hanya berubah bentuk: dari duduk melingkar di tikar menjadi terkoneksi di kolom komentar: dari bagi kue menjadi bagi "like" dan "gift".

Kesimpulannya, Tiktok live lebih dari sekadar platform hiburan. Ia adalah simptom dari perubahan besar dalam masyarakat kita. Ia menunjukkan betapa kita tetap butuh kebersamaan, cerita, dan pengakuan, meski dunia nyata makin individualis. Warung kopi mungkin sepi, tetapi ruang siaran live penuh. Ini bukan tentang teknologi yang maju, tapi tentang kebutuhan manusia yang abadi: untuk merasa terhubung, didengar, dan menjadi bagian dari sesuatu. Tiktok live, dengan segala sederhana dan kompleksitasnya, adalah salah satu jawaban kita di era yang terfragmentasi ini. (*)

*) Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Muhammadiyah Malang di bawah bimbingan Dr. Sulismadi, M.Si

 

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#opini mahasiswa #jawa pos radar mojokerto