Peraih Juara 3 Event Guru Favorit besutan Jawa Pos Radar Mojokerto ini mengedepankan pembelajaran yang mengaitkan materi dengan kearifan lokal. Menurutnya, ini adalah cara yang efektif untuk membuat pembelajaran terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga menjadi lebih bermakna. ’’Tetap melokal dan membawa nilai budaya pada siswa di dalam mata pelajaran dengan inovasi yang kreatif,’’ katanya.
Dia meyakini, pendidikan mampu menumbuhkan hati dan pikiran siswa menjadi generasi yang mampu berkontribusi bagi lingkungan. Oleh karenanya, ia menciptakan inovasi SHERA (smart heritage Majapahit hybrid augmented reality) dalam menularkan ilmu pada anak didiknya. ’’Program ini salah satu inovasi media pembelajaran saya yang berbasis digital. Di mana menggabungkan kekayaan budaya lokal dengan teknologi augmented reality. Jadi lebih menarik dipelajari oleh siswa,’’ terangnya.
Di sisi lain, program SHERA juga memungkinkan siswa mengunjungi situs sejarah Majapahit secara virtual. Mereka bisa mendengarkan narasi sejarah, serta mempelajari nilai-nilai budaya melalui pengalaman belajar berbasis teknologi.
’’Saya usahakan, dalam menciptakan inovasi media pembelajaran, di dalamnya harus ada nilai budayanya terutama nilai Majapahit yang mana merupakan warisan nenek moyang kita. Generasi muda harus tahu itu, lewat media pembelajaran yang kita berikan ke mereka,’’ kata wanita yang juga sempat dinobatkan sebagai guru konten kreator Jawa Timur ini.
Menurutnya pula, kekayaan budaya dari Kabupaten Mojokerto sangat beragam dan merupakan sumber belajar yang tak ternilai. Terlebih dengan kekhasan budaya dan sejarah kerajaan Majapahit yang unik, dapat dijadikan materi ajar dalam Kurikulum Merdeka. ’’Dengan memanfaatkan kekayaan budaya ini, pendidikan tidak hanya menjadi alat untuk menransfer pengetahuan tetapi juga untuk membangun identitas dan karakter bangsa pada siswa dengan cara yang seru,’’ tandasnya.
Harapanya, ke depan, agar dunia pendidikan Indonesia semakin berpihak pada kebutuhan murid dan membuka ruang luas bagi inovasi guru. ’’Saya ingin setiap anak belajar dengan hati, bukan karena tuntutan. Pembelajaran yang memerdekakan akan melahirkan generasi berkarakter yang siap membangun masa depan dengan cahaya pengetahuan dan budi pekerti,’’ tukas pendidik yang sempat mengikuti pelatihan internasional SEAMEO QITEP ini. (oce/fen)
Editor : Fendy Hermansyah