Seperti yang terjadi di SMPN 1 Mojokerto. Sejak Selasa (2/12), sekolah terpaksa menerapkan dua mode pengerjaan soal SAS atau ujian kenaikan kelas, yakni daring maupun luring. ’’Siswa yang masih bisa mengerjakan soal pakai handphone dan kuota sendiri ya tetap online. Kalau tidak support pakai handphone, kami sediakan kertas untuk mengerjakan soal di ruangan sendiri,’’ terang Kepala SMPN 1 Mojokerto Irene Darmono.
Dia menyebutkan, kendala jaringan internet yang dialami tersebut sudah berlangsung selama dua hari selama pelaksanaan SAS. Pihaknya mengaku memang ada informasi gangguan internet tersebut terjadi secara massal di beberapa titik wilayah Kota Mojokerto. ’’Termasuk di sekolah kami. Ada gangguan massal, begitu informasinya. Sampai hari ini (kemarin, Red) belum hidup lagi koneksinya,’’ imbuh dia.
Demikian pula yang dirasakan di SDN Gedongan 1. Kepala SDN Gedongan 1 Nur Chasanah menuturkan, koneksi internet sudah tidak bisa diakses sejak Selasa (2/12). Beruntungnya, wifi di sekolah tidak berdampak pada pelaksanaan SAS.
’’Karena di jenjang SD, SAS masih pakai kertas, jadi tidak berdampak. Hanya saja, bapak ibu guru terpaksa menggarap kerjaan ya pakai kuota internet masing-masing,’’ imbuhnya.
Kompleks SDN Balongsari pun juga terkena imbas gangguan internet massal ini. Guru SDN Balongsari 1 Dyah Novianti juga mengeluhkan kondisi yang sama. ’’Sejak kemarin (Selasa, Red) saya pakai kuota sendiri, tidak pakai internet sekolah, karena tidak bisa diakses,’’ tandasnya. (oce/ris)
Editor : Fendy Hermansyah