DPRD Kota Sayangkan Dapur SPPG Sempat Mandek
KOTA - Setelah sempat mandek, program makan bergisi gratis (MBG) akan kembali berjalan normal hari ini. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Mojokerto menyebut, dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) akan menyalurkan lagi paket makanan ke lembaga penerima manfaat.
Kabid Pendidikan Sekolah Dasar Dikbud Kota Mojokerto Muntamah menyatakan, mandeknya penyaluran MBG tidak terjadi di seluruh sekolah. Namun, terdapat satu unit SPPG yang berada di Kelurahan Gedongan, Kecamatan Magersari yang sempat menghentikan sementara distribusi akibat kendala teknis. ’’Sudah tidak ada masalah, karena kemarin juga ada perbaikan sanitasi,’’ tuturnya, kemarin (16/11).
Disebutkannya, per hari ini operasional SPPG kembali normal. Sehingga, paket menu MBG akan disalurkan lagi ke lembaga pendidikan yang menjadi penerima manfaat. ’’Besok Senin sudah mulai lagi,’’ tandasnya.
Terkait persoalan anggaran yang disebut-sebut menjadi faktor penyebab mandeknya program MBG, Muntamah menyatakan sudah tidak ada masalah. Tetapi, kata dia, perihal kucuran dana bukan menjadi kewenangan organinasi perangkat daerah maupun pemerintah daerah. Sebab, alokasi anggaran MBG sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional. ’’Dinas pendidikan hanya penerima manfaat saja. Jadi, soal anggaran apapun bukan ranahnya kami,’’ pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, penyaluran MBG di sejumlah sekolah penerima manfaat mendadak dihentikan sementara. Mandeknya program priotas nasional ini dialami oleh lembaga pendidikan negeri maupun swasta. Di antaranya di SD Muhammadiyah Plus Kota Mojokerto yang tidak mendapatkan jatah paket MBG sejak Kamis (13/11). Hal serupa juga dialami SDN Gedongan 2 yang juga tidak menerima distribusi paket makan bergizi gratis.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Mojokerto Arie Hernowo menyatakan pihaknya telah menerima aduan dari masyarakat terkait sempat terhentinya program MBG. Meski berlaku sementara, legislatif menyayangkan penghentian penyaluran bantuan konsumsi secara mendadak bagi peserta didik ini. ’’Setelah ada program MBG, siswa kan sudah terbiasa tidak membawa bekal. Kalau tiba-tiba dihentikan, khawatirnya tidak ada persiapan dari orang tua untuk konsumsi anaknya,’’ sesalnya.
Karena itu, dewan meminta agar SPPG untuk tetap menyalurkan paket menu MBG sesuai jadwal. Jika memang terdapat kendala yang bersifat force majeure, maka pihak pengelola dapur harus berkoordinasi dengan sekolah agar menyampaikannya ke seluruh murid dan orang tua. ’’Komunikasi ini penting untuk memastikan anak-anak di sekolah mendapat asupan konsumsi,’’ pungkas dia. (ram/fen)
Editor : Hendra Junaedi