Pengetahuan dan pemahaman atas nilai-nilai luhur Pancasila kian tergerus oleh kemajuan teknologi. Tidak hanya peserta didik, guru juga terkadang jarang yang memahami nilai-nilai luhur dasar negara Republik Indonesia. Berangkat dari situasi itu, Yuswanto menciptakan gagasan Sekolah Bumi Pancasila sebagai penguatan pendidikan karakter bagi pelajar SMAN 1 Gondang.
Di mana, kelima sila dalam Pancasila dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan sekolah. ’’Pancasila merupakan sumber pendidikan karakter. Saya ingin membuka kembali nilai-nilai luhur Pancasila agar dapat dipahami dan dipraktikkan peserta didik di kehidupan nyata,’’ ungkap guru mata pelajaran geografi ini.
Dalam praktiknya, konsep Sekolah Bumi Pancasila diwujudkan dalam bentuk penjelasan atas fakta di setiap aktivitas pembelajaran yang dijalani para siswa setiap harinya. Seperti, salat Duha, yang berarti meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan. Hal ini, sesuai dengan nilai luhur dalam sila pertama, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa.
Lalu, aktivitas mengumpulkan dana sosial untuk menjengkuk teman yang sakit. Yang bisa disimbolkan sebagai bagian dari sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. ’’Maka, guru bisa menegaskan bahwa hal itu sesuai dengan nilai luhur di setiap sila Pancasila,’’ tambah bapak tiga anak ini. Selain penguatan karakter, Yuswanto juga kerap memandu bakat siswa.
Salah satunya mengantarkan peserta didiknya di final Jurnalistik FLS3N tingkat Nasional 2025, 17–23 November nanti, di Institut Kesenian Jakarta. Menurut warga Desa Kembangsri, Kecamatan Ngoro, ini setiap siswa memiliki potensi sesuai dengan bakat dan minta. Maka dari itu, guru harus bisa memberikan rasa nyaman dan aman agar anak fokus pada pengembangan bakatnya. ’’Guru jangan menghakimi anak-anak didiknya. Sehingga, anak didik akan nyaman dan fokus pada pembinaan sesuai dengan yang diinginkan,’’ pungkasnya. (far/ris)
Editor : Hendra Junaedi