Sebagai guru mata pelajaran ilmu seni budaya, sosok Ambardi Cahyo bisa dikatakan pengajar yang inovatif. Buktinya, dia selalu punya cara baru untuk menggelar pembelajaran yang menyenangkan di ruang kelas. Pembelajaran seni musik, misalnya. Selama ini, dia menggunakan metode Mama Mana (mainkan irama dan mainkan nada).
Secara garis besar metode tersebut disusun berdasarkan pengalaman Cahyo, sapaan akrabnya, saat mengajar seni musik di dalam kelas dengan kemampuan musikal yang berbeda dari setiap siswa. ’’Metode ini menyesuaikan kemampuan awal murid, memainkan nada dan irama adalah dasar dalam bermusik,’’ katanya.
Dalam metode Mama Mana, nada dimainkan oleh murid sebagai vokal. Kemudian irama dimainkan dengan tepukan. ’’Jadi, dalam penerapannya, setiap murid tentu bisa memainkan musik,’’ terang pria yang aktif bermain musik di event-event musik Jazz ini. Meski aktif sebagai pengajar ekstrakurikuler band, Cahyo juga totalitas membawakan materi pembelajaran di bidang seni rupa.
Adapun metode seni rupa yang dia terapkan selama ini dijuluki Bu Risma alias buat garis berirama. ’’Dalam menggambar setiap murid memiliki kemampuan yang berbeda. Ada yang sudah lancar, ada yang belum lancar menggambar. Supaya semua dapat membuat gambar dengan rapi, saya menyusun metode tersebut,’’ papar pembina grup ansamble musik SMPN 1 Trawas ini.
Sedangkan inti dari penerapan tersebut yakni murid membuat garis dengan teknik perspektif (menggambar dengan sumbu/titik hilang). Membuat garis dengan irama bukan berarti irama musik, namun pola yang tersusun atas garis yang mengacu pada titik hilang. ’’Dengan teknik perspektif, setiap murid memiliki kesempatan yang sama untuk menghasilkan suatu objek gambar,’’ pungkasnya. (oce/ris)
Editor : Hendra Junaedi