Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Antara Harapan dan Tekanan, Realita di Balik Ujian Gaokao di China

Imron Arlado • Kamis, 9 Oktober 2025 | 22:14 WIB
Di china ada salah satu momen ujian paling penting bagi siswa SMA sederajat yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Sumber foto: Google
Di china ada salah satu momen ujian paling penting bagi siswa SMA sederajat yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di china ada salah satu momen ujian paling penting bagi siswa SMA sederajat yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi.

Ujian ini dikenal dengan sebutan Gaokao atau National Higher Education Entrance Examination, sebuah ujian berskala nasional untuk menentukan apakah seseorang bisa masuk universitas, dan universitas mana yang bisa menerima mereka.

Ujian ini umumnya diikuti oleh kurang lebih 10 juta siswa tiap tahun dan hanya dilaksanakan selama satu kali dalam satu tahun, biasanya di bulan Juli.

Ujian gaokao kerap kali disebut sebagai ujian penentu nasib karena bagi masyarakat China, Gaokao bukanlah sekedar ujian sekolah, tetapi juga dianggap sebagai gerbang menuju masa depan.

Nilai dari ujian ini dapat menentukan arah hidup seseorang setelah lulus dari sekolah, apakah mereka bisa menempuh pendidikan tinggi di kampus ternama atau harus memilih jalur lain di luar pendidikan formal.

Meski sistem ujian gaokao disusun secara nasional, di beberapa provinsi biasanya memiliki perbedaan kecil pada struktur dan bobot nilai. Namun, secara umum bobot nilai maksimalnya adalah 750 poin.

Dalam ujian ini, siswa diwajibkan mengikuti ujian mata pelajaran utama, yaitu bahasa inggris, matematika, dan bahasa mandarin.

Selain mata pelajaran, siswa juga diwajibkan memilih salah satu dari dua jalur, yakni jalur sains yang mencakup fisika, kimia, dan biologi, atau jalur humaniora yang mencakup sejarah, geografi, dan politik.

 

Baca Juga: Puluhan Rumah di Dua Desa di Mojokerto Rusak Tersapu Angin Kencang

 

Selama ujian berlangsung, siswa akan menjalani tes tulis selama dua hingga tiga hari berturut-turut. Seluruh hasil ujian kemudian akan dimasukkan ke dalam sistem seleksi nasional untuk bisa menentukan kampus mana yang bisa mereka masuki.

Beberapa provinsi seperti Shanghai dan Beijing menerapkan sistem ujian gaokao yang lebih fleksibel dibandingkan dengan provinsi lain, di mana siswa dibebaskan memilih kombinasi mata pelajaran lintas jurusan.

Menjelang pelaksanaan ujian gaokao, kehidupan siswa di China berubah drastis menjadi sangat padat, disiplin, dan terstruktur.

Tak sedikit sekolah di sana yang menerapkan jadwal belajar yang sangat padat dari pagi hingga malam, bahkan ada yang mencapai 12 hingga 14 jam sehari.

Pada saat siswa sedang berada di fase ini, tekanan tidak hanya datang dari sekolah, tetapi juga dari orang tua dan lingkungan sosial.

Di China, hasil gaokao juga seringkali dianggap sebagai tolak ukur dan tingkat kehormatan keluarga.

Karena itulah, menjelang pelaksanaan gaokao banyak siswa hidup dalam kondisi penuh tekanan yang menimbulkan dampak psikologis serius.

Banyak siswa di China yang akhirnya mengalami gangguan tidur, cemas berlebihan, dan stres berkepanjangan karena rasa takut gagal.

Ujian gaokao juga dikenal karena memunculkan ketimpangan sosial, di mana siswa dari keluarga berada akan menerima fasilitas belajar lebih baik dibandingkan dengan mereka yang berasal dari keluarga rentan.

Namun di sisi lain, gaokao tetap dianggap sebagai sistem penentuan yang adil secara akademik, semua siswa diuji dengan kemampuan mereka sendiri tanpa memandang status sosial.

Fenomena ini membuat ujian gaokao menjadi simbol paradoks, di satu sisi memberikan harapan, sementara di sisi lain menciptakan tekanan besar yang mampu memengaruhi kesehatan mental para generasi muda.

Ujian gaokao menjadi inti dari sistem pendidikan china yang berbasis meritokrasi, yang artinya kesempatan ditentukan oleh kemampuan, bakat, dan prestasi siswa, bukan oleh kekayaan atau koneksi.

 

Baca Juga: Benang Cinta yang Tak Pernah Putus Kisah Menyentuh dari Movie Love Untangled

 

Prinsip ini juga dinilai sejalan dengan nilai-nilai luhur China yang menekankan pendidikan dan usaha pribadi untuk menuju kesuksesan.

Di beberapa negara lainnya juga terdapat ujian yang serupa dengan ujian gaokao China, contohnya seperti di Indonesia yang siswanya dapat mengikuti UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer) untuk masuk perguruan tinggi.

Ada juga ujian Suneung di Korea Selatan yang terkenal sangat menegangkan dan menentukan masa depan siswa.

Di Amerika Serikat, seleksi masuk perguruan tinggi dilaksanakan menggunakan SAT atau ACT, namun nilai ujian tersebut bukan satu-satunya faktor penentu.

Sama seperti di Amerika Serikat, di Inggris ujian masuk perguruan tinggi juga dinilai cukup fleksibel menggunakan A-Level, di mana siswa dapat memilih bidang spesifik sesuai minat mereka.

Dari seluruh ujian yang serupa dari berbagai negara tersebut, terlihat bahwa sistem ujian gaokao China menonjol karena tingkat persaingannya yang luar biasa tinggi dan besarnya pengaruh nilai ujian terhadap masa depan siswa.

 

Baca Juga: Pemadaman Listrik Kembali Menyasar Wilayah Puri, Berikut Simak Lokasinya 

Ujian gaokao China bukan sekedar ujian, melainkan cerminan dari budaya, nilai, dan mentalitas atau karakter masyarakat China terhadap pendidikan serta kerja keras.

Dari ujian ini, masyarakat di seluruh dunia juga bisa belajar mengenai dedikasi luar biasa para siswa dalam meraih masa depan yang cerah.

FANEZA

 

Editor : Imron Arlado
#china #National Higher Education Entrance Examination #pendidikan #gaokao #jalur sains #meritokrasi #dampak psikologis #ujian penentu nasib #mata pelajaran utama #simbol paradoks #jalur humaniora