Salam Bumi, Pasti Lestari, Al-Akbar, Berkibar. Pekik semangat itu mengiringi kegiatan kunjungan Kelab Pencinta Alam Sekolah Malaysia di SDI Al-Akbar Desa/Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Rabu (17/9).
Rombongan yang terdiri dari guru, kepala sekolah, juga NGO (nongovernmental organization) atau LSM peduli lingkungan ini mendatangi SDI Al-Akbar, dalam misi menjalankan kegiatan International Exchange Programme, Sustainable School Study Tour and Workshop for Educators.
Dipimpin Puan Sarifah Mahmutha binti Sayed Ali selaku Pahang State Coordinator's Office Kelab Pencinta Alam Sekolah Malaysia, rombongan diterima langsung Pembina Yayasan Al-Akbar Hj. Khoiroh Azizah, SE, MM, pengurus yayasan, pimpinan sekolah, dan siswa ASCO (Al-Akbar Student Council).
Disambut alunan musik gamelan, para pecinta alam asal Malaysia itu lantas menjelajah berbagai sudut SDI Al-Akbar. Mereka berinteraksi dengan anggota ASCO, tanya jawab berbagai hal tentang SDI Al-Akbar dengan aksi lingkungannya. Agenda puncaknya, kegiatan tersebut diisi dengan lokakarya yang membahas penerapan budaya sekolah hijau di seluruh ASEAN, serta menampilkan beberapa model dan proyek sekolah ramah lingkungan yang dapat direplikasi para guru di seluruh kawasan.
Kepala SDI Al-Akbar Muhammad Shirojudin menyampaikan urgensi membangun kesadaran dalam mewujudkan murid yang peduli lingkungan. ’’Ada enam hal yang mendukung terwujudnya kesadaran berbudaya lingkungan. Yaitu, daya dukung, sosialisasi dan pembinaan, sarana pendukung, internalisasi pembelajaran, semua adalah duta lingkungan, serta slogan imbauan,’’ tuturnya.
Puan Sarifah menyatakan, Kelab Pencinta Alam Sekolah Malaysia adalah NGO/LSM yang menaungi berbagai sekolah dengan dukungan pemerintah Malaysia. Berbagai kegiatan lingkungan diselenggarakan, termasuk International Exchange Programme ini diikuti 17 sekolah. ’’Kami sangat mengapresiasi SDI Al-Akbar, sebagai sekolah hijau yang telah menerapkan perilaku ramah lingkungan hidup (PRLH),’’ ulasnya.
Dalam sesi tanya jawab dan sharing, salah satu peserta menyampaikan kekagumannya terhadap masjid sekolah dengan bangunan terbuka dan estetik. ”Di tempat kami, suraunya tertutup, akan panas sekali kalau ada masalah listrik”, ungkapnya. Merespons hal tersebut, Khoiroh Azizah menyampaikan, sekolah ini dikelola dengan tidak meninggalkan nilai-nilai tradisional dan keislaman, mengingat sebagai lembaga pendidikan Islam.
Perpaduan dua hal ini, tradisi dan Islami, menjadi landasan berbagai program pendidikan di Al-Akbar. ”Termasuk masjid ini, saya bangun sesuai khas Mojokerto, bangunan dengan arsitektur gaya Majapahitan,’’ tandasnya. Kegiatan kunjungan ini dipungkasi dengan saling tukar suvenir dan foto bersama. (oce/ris)
Editor : Hendra Junaedi