Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Bayt al-Hikmah: Sejarah Pusat Kejayaan Ilmu Pengetahuan di Peradaban Islam

Imron Arlado • Jumat, 1 Agustus 2025 | 23:57 WIB
Sejak awal kemunculannya, islam sudah menekankan kepada seluruh umatnya tentang pentingnya mempelajari ilmu pengetahuan. Sumber foto: Google
Sejak awal kemunculannya, islam sudah menekankan kepada seluruh umatnya tentang pentingnya mempelajari ilmu pengetahuan. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Sejak awal kemunculannya, islam sudah menekankan kepada seluruh umatnya tentang pentingnya mempelajari ilmu pengetahuan.

Perintah serta dorongan kepada seluruh umat muslim untuk berpikir, merenung, dan mencari ilmu juga tertulis dalam banyak ayat Al-Qur'an dan hadist Nabi Muhammad SAW.

Semangat menuntut ilmu ini selalu tumbuh subur di peradaban islam, bahkan hingga kini. Terutama pada peradaban islam terdahulu, tepatnya di masa Kekhalifahan Abbasiyah.

Para pemimpin di masa ini sangat mendukung kegiatan penelitian dengan mendanai kebutuhan penelitian para ilmuwan, membangun perpustakaan, observatorium, rumah sakit, dan pusat pendidikan.

Meski berpusat dalam peradaban islam, ilmu dalam masa ini tidak sebatas ilmu agama saja. Namun, ilmu sains, eksakta (matematika, aljabar, geometri), filsafat, logika, bahasa dan sastra juga dipelajari dalam peradaban ini.

Di era ini, terdapat sebuah bangunan perpustakaan bernama Bayt al Hikmah atau yang juga dikenal dengan sebutan House of Wisdom.

Bukan hanya sekedar perpustakaan biasa, tempat ini juga menjadi pusat pembelajaran dan memiliki berbagai fungsi seperti menjadi pusat riset dan pertukaran ilmu pengetahuan terbesar di dunia Islam pada abad pertengahan.

Lembaga ini sangat menggambarkan semangat para cendekiawan Islam dalam menggali, melestarikan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dari berbagai peradaban. Hal ini menjadi simbol keterbukaan terhadap ilmu timur maupun barat.

House of Wisdom atau Bayt al Hikmah ini didirikan pada abad ke-8 masehi oleh Khalifah Harun al Rasyid yang saat itu menjabat sebagai pemimpin sejak tahun 786-809 masehi.

 

Baca Juga: Tiga Proyek Jalan di Kabupaten Mojokerto Tuntas Lebih Awal, Lainnya On Progress

 

Namun, bangunan ini mengalami perkembangan pesat pada masa kepemimpinan Khalifah al Makmun, putra dari Khalifah Harun al Rasyid, pada tahun 813 hingga 833 masehi.

Bangunan Bayt al Hikmah terletak di Baghdad yang dikenal sebagai ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah yang saat itu menjadi kota paling kosmopolitan, maju, dan intelektual di dunia.

Letak kota Baghdad strategis berada di jalur perdagangan global. Kota ini juga telah dirancang sebagai pusat kekuasaan sekaligus pusat kebudayaan dan ilmu.

Dua faktor tersebut semakin memperkuat posisi kota Baghdad sebagai tempat bertemunya berbagai gagasan ilmu dari India, Persia, Bizantium, Yunani, hingga Arab.

Tak hanya itu, dukungan dari para pemerintah dan pemimpin kota Baghdad juga memberi pengaruh baik yang sangat besar dalam perkembangan kota ini.

Bahkan Khalifah al Makmun selaku pemimpin dari Baghdad memberi gaji yang sangat tinggi kepada para ilmuwan dan penerjemah yang bekerja di House of Wisdom.

Bayt al Hikmah juga menjadi pusat penerjemahan lintas budaya, tak sedikit karya-karya ilmuwan besar yang diterjemahkan di tempat ini. Contohnya seperti Almagest karya Ptolomeus, ilmu kedokteran karya Galen dan Hippocrates, serta Elements karya Euclid.

Proyek terjemahan ini juga bersifat kolaboratif, menggabungkan ilmuwan dari penjuru dunia mulai dari ilmuwan muslim, kristen nestorian, dan yahudi. Hasil terjemahannya pun bukan sekedar alih bahasa, namun disertai catatan dan komentar yang memperkaya isinya.

Pusat penelitian dan inovasi kala itu juga berpusat di Bayt al Hikmah. Tempat ini tak hanya digunakan sebagai tempat menyalin ilmu lama, tapi juga pengembangan ilmu baru.

Para peneliti melakukan berbagai eksperimen di Bayt al Hikmah ini, mulai dari bidang kimia, astronomi, dan kedokteran.

House of Wisdom juga digunakan sebagai tempat penyimpanan ribuan manuskrip berharga yang langka. Aksesnya pun terbuka untuk siapa saja tanpa membedakan latar belakang kehidupan.

Para tokoh-tokoh ilmuwan besar dan terkenal juga menembah ilmu dan menjadi pengajar di House of Wisdom atau Bayt al-Hikmah ini.

Diantaranya ada Al Khawarizmi sang Bapak Aljabar, karyanya yang bertajuk Al Kitab al Mukhtasar fi Hisab al Jabr wal Muqabala menjadi dasar bagi ilmu matematika modern.

 

Baca Juga: Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto Ajari Kader Bikin Pupuk Organik dari Sampah Rumah Tangga

 

Ada juga ahli kedokteran dan penerjemah terkemuka, Hunayn ibn Ishaq, yang menerjemahkan karya medis dari bahasa Yunani ke Arab dan Suriah.

Al Farghani, seorang astronom terkemuka yang menulis Kitab fi Jawami Ilm al Nujum, yang kemudian diterjemahkan ke bahasa latin dan dipakai oleh Eropa selama ratusan tahun juga menembah ilmu dan mengajar di House of Wisdom.

Selanjutnya adalah Jabir ibn Hayyan, ia mendapat julukan Bapak Kimia Islam. Jabir ibn Hayyan mengembangan metode distilasi, kristalisasi, dan filtrasi yang masih digunakan hingga kini di laboratorium modern.

Hal ini membuktikan bahwa Bayt al Hikmah atau House of Wisdom bukan hanya simbol kejayaan peradaban islam, namun juga bukti bahwa ilmu pengetahuan dapat mengalami perkembangan pesat jika masyarakat dan pemimpin menghargai keberagaman, toleransi, dan kerja sama lintas budaya.

FANEZA

 

Editor : Imron Arlado
#bapak kimia islam #house of wisdom #ilmuwan besar #pendidikan #hippocrates #galen #euclid #kekhalifahan abbasiyah #bayt al hikmah #kimia #Baghdad #peradaban islam #khalifah harun al rasyid #Bapak Aljabar #Sejarah Dunia #jabir ibn hayyan #ilmu kedokteran #pusat pembelajaran #ptolomeus #algamest #al khawarizmi #khalifah al makmun #elements #al farghani #Hunayn ibn ishaq