RADAR MOJOKERTO - Menyambut kemeriahan hari pendidikan nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei 2025 mendatang, Indonesia tentu telah berkembang banyak dari segi ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan.
Pendidikan tepat dan layak telah diperjuangkan sejak dahulu, bahkan sebelum kemerdekaan.
Kegigihan para pahlawan seperti Ki Hadjar Dewantara telah membentuk pendidikan Indonesia lebih baik. Perjuangan dari para perempuan juga tak kalah menarik, RA. Kartini dan Dewi Sartika contohnya.
Perjuangan akan pendidikan terbaik bagi anak bangsa tentu tak berhenti pada perjuangan yang dilakukan oleh para pahlawan nasional terdahulu.
Hingga kini, tumbuh tokoh-tokoh baru pejuang pendidikan nasional. Berikut rangkuman beberapa tokoh pejuang pendidikan Indonesia masa kini.
1. Najelaa Shihab
Najelaa Shihab dikenal sebagai seorang psikolog. Perempuan kelahiran 1976 ini juga menjadi salah satu pendidik di Indonesia dan bahkan telah mendirikan sekolah Cikal di daerah Kemang, Jakarta Selatan pada usianya yang waktu itu masih 23 tahun (1999).
Putri sulung M. Quraish Shihab ini memiliki ketertarikan mendalam dunia psikologi dan pendidikan.
Oleh karena itu, mendirikan sekolah menjadi cita-cita yang diinginkan Najelaa sejak kecil dan hingga kini diketahui Sekolah Cikal telah berdiri di delapan lokasi. Najelaa Shihab juga mendirikan situs berisi video pendidikan oleh guru dan sisa pada 2012.
2. Anies Rasyid Baswedan
Tak hanya dikenal sebagai seorang aktivis dan politikus, Anies Baswedan juga menjadi salah satu tokoh pendukung kemajuan pendidikan Indonesia.
Hal ini dibuktikan melalui program Indonesia Mengajar yang dibuat untuk anak-anak pelosok dengan segala keterbatasan baik wilayah maupun ekonomi untuk mengemban pendidikan.
Selain itu, distribusi Kartu Indonesia Pintar saat Anies masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 2014 menjadi salah satu prestasi menmbanggakan.
Beliau juga ingin menghidupkan kembali pendidikan yang menyenangkan seperti dalam konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara.
Anies Baswedan hidup di lingkungan keluarga pendidik, maka tak heran jika banyak dari prestasinya berfokus pada kemajuan dunia pendidikan dan manfaat bagi masa depan Indonesia.
3. Septi Peni Wulandani
Aktivis sosial asal Salatiga ini menjadi bagian dari sosok pendidikan Indonesia masa kini.
Selain aktivis, Septi juga menunjukkan ketertarikannya pada dunia pendidikan dengan menerbitkan sejumlah buku dan mendirikan School of Life Lebah Putih pada 2012 di Salatiga.
Bukan hanya pendidikan, Septi juga menjadi salah satu tokoh emansipasi wanita masa kini, sebab ia juga mendirikan gerakan Ibu Profesional (IP) dengan tujuan menjadikan rumah sebagai tempat belajar (study center) bagi ibu dan anak, beliau juga meraih penghargaan seperti Ibu Teladan (2004), Women Entrepreneur Award (2007), Tokoh Pendidikan Kesetaraan (2008), Inspiring Women Award dan Kartini Award (2009), Kartini Next Generation Award (2013), dan Facebook Community Leadership Award (2018) atas perannya dalam membangun komunitas IP.
4. Yohanes Surya
Yohanes Surya dikenal sebagai seorang ilmuwan yang juga menjadi tokoh pendidikan di Indonesia.
Yohanes sudah menunjukkan ketertarikannya pada dunia akademik semenjak kecil. Ia sangat mencintai fisika sampai mendirikan TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) bersama 5 orang temannya.
Kiprah dalam dunia pendidikannya terwujud dari banyaknya tulisan tentang matematika/fisika tingkat SD-SMA.
Yohanes aktif menulis dalam berbagai media seperti Tempo, Kompas, dan Media Indonesia. Salah satu tulisannya adalah Novel TOFI, sebuah novel fiksi ilmiah.
Yohanes juga diketahui merintis Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Surya (STKIP Surya) sejak 2009 di kawasan Tangerang.
Pada 2010, beliau juga mendirikan Surya Research Education Center sebagai pusat penelitian fisika dan matematika. Surya University juga didirikan pada 2013 oleh Yohanes Surya dengan fokus universitas berbasis riset.
5. Saur Marlina Manurung (Butet Manurung)
Saur Marlina Manurung atau yang akrab disapa Butet Manurung merupakan wanita kelahiran 21 Februari 1972 dan salah seorang aktivis Indonesia.
Butet yang begitu cinta dengan alam hingga kini tetap ingin menunjukkan keinginannya untuk mensejahterakan pendidikan dimanapun ia berada.
Kegigihannya membangun pendidikan tampak pada pendirian Sokola Rimba yang ia lakoni bersama tiga pendiri lainnya.
Sokola Rimba tidak memiliki kurikulum khusus, siswa diajarkan membaca, menulis, dan berhitung, serta menumbuhkan keterampilan dari masing-masing siswa di dalamnya.
Butet Manurung juga menerbitkan buku pada 2007 bertajuk Sokola Rimba . Penghargaan demi penghargaan yang didapatkan olehnya.
Perjalanan Sokola Rimba juga akhirnya difilmkan pada 2013 oleh sutradara Riri Riza.
6. Seto Mulyadi
Kak Seto, begitu sapaan akrabnya. Seorang ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) sekaligus sebagai psikolog anak.
Dalam lingkup pendidikan, Kak Seto berhasil mendirikan Homeschooling Kak Seto (HSKS) pada 2007.
Homeschooling ini memiliki program pendidikan yang membimbing setiap siswanya untuk menjadi calon pemimpin masa depan yang memiliki keterampilan dan karakter.
Dari kontribusinya, baik melalui perfilman maupun ruang pendidikan dan psikolog anak, Seto Mulyadi memperoleh beberapa penghargaan besar seperti Orang Muda Berkarya Indonesia kategori Pengabdian pada Dunia Anak-anak (1987) dan The Golden Ballon Award kategori Social Activity dari World Children’s Day Foundation and UNICEF (1989).
Editor : Imron Arlado