Tumpukan sampah organik yang selama ini dianggap tidak berguna kini disulap menjadi pupuk berkualitas oleh siswa SMPN 2 Kutorejo. Para siswa bergotong royong mengolah sampah menjadi kompos.
Kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan membersihkan lingkungan, tetapi juga menjadi aksi nyata dalam menjaga kelestarian alam. Para siswa dengan antusias belajar memilah, mencacah, dan mencampurkan berbagai jenis sampah organik hingga menjadi pupuk yang kaya nutrisi.
’’Dengan membuat pupuk organik sendiri, kita tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga mendapatkan pupuk alami yang baik untuk tanaman,” kata Kepala SMPN 2 Kutorejo Rahayu Wijayati, kemarin (14/4). Sebagai salah satu sekolah Adiwiyata nasional, SMPN 2 Kutorejo juga tengah mempersiapkan diri sebagai Adiwiyata mandiri.
Sesuai dengan visi sekolah, salah satunya mewujudkan generasi berbudaya lingkungan, gerakan mengolah pupuk kompos ini sebagai bentuk implementasi. ’’Gerakan peduli dan berbudaya lingkungan hidup di sekolah (GPBLHS) perlu dilaksanakan sejak dini, dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan masyarakat sekitar,’’ tuturnya.
Pengolahan sampah, lanjut dia, masuk dalam pokja GPBLHS. Di mana kegiatan rutin itu terdiri dari tiga program pengolahan sampah, yaitu 3R (reduce, reuse dan recycle). ’’Pengomposan termasuk kegiatan recycle, yang mengubah sampah organik menjadi kompos. Sehingga lebih bermanfaat karena bisa difungsikan kembali sebagai media tanam,’’ imbuh Rahayu. (oce/ris)
Editor : Hendra Junaedi