PERWUJUDAN transformasi sekolah menengah kejuruan (SMK) bersama mitra dunia usaha dan dunia industri (DUDI), terbukti membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) SMKN 1 Jetis. Sebagai salah satu penerima program SMK PK, di bawah lembaga pendidikan vokasi dengan tujuh program keahlian ini, mengalami perubahan yang signifikan.
Dengan penguatan sumber daya manusia (SDM), SMKN 1 Jetis membuat proyek kolaborasi antara guru dengan siswa. Itu dengan dilahirkannya tiga inovasi antara lain, Lima Jari, Ada Kopi dan Mariposa. ’’Lahirnya ketiga inovasi ini sebagai wujud SMKN 1 Jetis mendukung era Revolusi Industri 4.0,’’ kata Kepala SMKN 1 Jetis Ladi.
Inovasi pertama, Lima Jari SMKN 1 Jetis alias Alumni Mengajar dan Berbagi di SMKN 1 Jetis. Dibentuknya program ini, memberikan tambahan pengetahuan dan keterampilan bagi peserta didik SMK Negeri 1 Jetis dengan narasumber alumni SMKN 1 Jetis yang telah berkecimpung di dunia industri. Sekligus, mempererat silaturahmi antara sekolah dengan alumni SMK Negeri 1 Jetis. ’’Lima Jari ini juga sebagai wadah agar siswa mendapatkan masukan dan saran dari alumni terkait dengan pengembangan proses pembelajaran agar lebih sinkron dengan kebutuhan industri dan dunia kerja,’’ paparnya.
Beberapa waktu lalu, telah dihadirkan narasumber dari alumni 2014-2020. Mereka ada yang bekerja di PT Freeport Indonesia smelter Gresik hingga menjadi wirausahawan. ’’Rencana kedepan, Lima Jari bakal diadakan untuk seluruh konsentrasi keahlian yang ada di SMKN 1 Jetis,’’ ungkapnya.
Inovasi kedua, Ada Kopi yang merupakan akronim Adaptasi, Kolaborasi dan Implementasi Bersama Mitra Industri. Program ini berawal dari inisiatif dan kebijakan kepala sekolah untuk melakukan sinkronisasi kurikulum dengan target peningkatan kegiatan teaching factory (TeFa). ’’Serta untuk penempatan siswa PKL di perusahaan berkualitas dan rekrutmen peserta didik sebelum lulus sekolah,’’ terang Ladi.
Strategi pelaksanaan Ada Kopi, diawali dari pemetaan dan pemilihan mitra industri pendamping untuk sinkronisasi kurikulum dan mapping kebutuhan industri. Kemudian, dilanjutkan observasi sumberdaya sekolah oleh mitra industri terpilih dan magang industri bagi guru untuk penyelarasan kompetensi. ’’Selanjutnya dilakukan perumusan dan pembelajaran varian produk teaching factory yang dapat dikerjakan di SMKN 1 Jetis pada berbagai konsentrasi keahlian,’’ tuturnya.
Lalu, publikasi proses dan hasil produk atau jasa TeFa dipasarkan melalui media sosial dan menggandeng seluruh mitra industri berkunjung ke SMKN 1 Jetis. Dampaknya, kini TeFa SMKN 1 Jetis telah masuk pada kategori TEFA 2 dan TEFA 3. ’’Yaitu pemenuhan kebutuhan masyarakat dan kebutuhan mitra industri dengan menghasilkan berbagai produk sparepart. Selain itu, tercapai pula rekrutmen siswa sebelum lulus oleh mitra industri dalam bentuk magang kerja,’’ tandasnya.
Ketiga, inovasi MARIPOSA (Masa Pelestarian Budaya Positif Siswa). Program ini meliputi penerapan pembiasaan perilaku positif dari siswa yang akhirnya diharapkan menjadi budaya positif. Utamanya dalam rangka membentuk karakter dan kepribadian siswa yang berbudi pekerti luhur sesuai Pancasila dan nilai-nilai luhur warisan leluhur bangsa. ’’Dan tentu dengan menyesuaikan dengan kebutuhan siswa ke depan, terlepas mereka akan bekerja, melanjutkan maupun wirausaha,’’ imbuh dia.
Tujuan penerapan Mariposa, adanya pembiasaan nilai moral dan etika serta kompetensi sosial emosional pada kepribadian peserta didik, mempersiapkan siswa dari aspek karakter/kepribadian agar menjadi lulusan yang unggul, kreatif dan inovatif berlandaskan ketakwaan, akhlak dan kemandirian sesuai visi sekolah. ’’Penerapannya mulai dari pembentukan tim dari para guru, perumusannya, penyusunan LKPD serta sosialisasi pada siswa,’’ ungkapnya.
Hasil kegiatan Mariposa, saat ini menjadi 2 dampak baik fisik dan nonfisik. Secara fisik, berupa banner keyakinan kelas, banner kata-kata motivasi atau kata-kata bijak, dan kumpulan LKPD sesuai materi. Sedangkan dalam bentuk nonfisik, terjadinya pembiasaan yang akan jadi budaya positif yang akan membuahkan karakter dan kepribadian peserta didik menuju keselamatan dan kebahagiaan. ’’Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa mampu membentuk budaya positif dan pada akhirnya akan menjadi karakter dan kepribadian yang positif sebagai bagian dari sosial masyarakat,’’ pungkas Ladi. (oce/fen)
Editor : Hendra Junaedi