SMK Raden Rahmat kini memiliki sebanyak 2.306 siswa. Karenanya, dengan ribuan siswa tersebut lembaga pendidikan di Mojosari, Kabupaten Mojokerto ini selalu komitmen dalam menangani relevansi pendidikan berdasarkan kebutuhan dunia kerja. Perubahan itu dicanangkan dari efisiensi kurikulum, sumber daya manusia (SDM) tenaga pendidik, produk riset, serta infrastruktur.
Kepala SMK Raden Rahmat Nanang Bahrurrozi menyatakan, melalui program SMK PK) ini pihaknya berupaya membangun sekolah berkualitas dan relevan dengan arah pembangunan industri di masa mendatang. Terlebih, DUDI memiliki beberapa intervensi untuk meningkatkan mutu lulusan SMK yang berkualitas dan berprestasi. ’’Salah satunya melalui praktik kerja lapangan (PKL) yang wajib diikuti siswa selama menempuh pembelajaran,’’ ungkapnya.
Melalui sembilan program keahlian, mitra DUDI yang telah dijalin SMK Raden Rahmat juga tak main-main (selengkapnya baca grafis). Setidaknya terdapat 28 perusahaan yang tengah menjalin kerja sama program pendidikan dengan lembaga vokasi ini. ’’Usai menjalani PKL, di sekolah juga ada bursa kerja khusus (BKK) dari beberapa industri (perusahaan). Pelaksanaan tes dilaksanakan di sekolah secara langsung,’’ paparnya.
Nanang menyebut, siswa SMK tidak semata dibekali teori. Mereka juga dibekali kecakapan hidup atau life skill. Sehingga, saat lulus nanti tidak hanya diarahkan untuk bekerja, namun juga berwirausaha atau entrepreneurship. Setidaknya hal ini sudah dibuktikan oleh siswa saat TeFa melalui produksi e-bike dan servis sepeda motor listrik. ”Selain praktik pembelajaran, juga melatih jiwa kewirausahaan siswa,’’ urainya.
Beragam upaya tersebut menjadi bukti komitmen SMK Raden Rahmat dalam meningkatkan mutu pendidikan yang berkualitas. Yakni, melalui program yang visioner dan berorientasi pada kebutuhan dunia kerja. Dengan harapan setiap lulusan dapat lebih unggul, berprestasi, dan siap bersaing di dunia industri. ”Siswa diberi kesempatan untuk belajar sesuai potensinya. Muaranya nanti tetap pada peningkatan kompetensi dan keterampilan setelah lulus,” pungkas Nanang. (oce/ris)
Editor : Hendra Junaedi