Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Riwayat Ahmad Dahlan dan Perannya di Bidang Pendidikan

Imron Arlado • Kamis, 2 Mei 2024 | 01:54 WIB
KH Ahmad Dahlan memiliki peran penting di dunia pendidikan.(foto Radar Surabaya)
KH Ahmad Dahlan memiliki peran penting di dunia pendidikan.(foto Radar Surabaya)

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Hari Pendidikan Nasional yang diperingati tiap 2 Mei, selalu mengingatkan sosok satu ini.

Ia adalah Ahmad Dahlan. Selain mengajarkan rasa nasionalisme dan kebangsaan pada warga Indonesia, sosok kiai ini juga memberikan wawasan yang lebih luas dan bisa menggerakkan rasa kemanusiaan seseorang.

Siapa sebenarnya Ahmad Dahlan? Dan apa perannya dalam pendidikan?

Ahmad Dahlan lahir pada 1 Agustus 1868 di Kauman, Yogyakarta dan wafat pada 23 Februari 1923. Ia merupakan salah satu  tokoh penting dalam Islam, yang memberikan kontribusi dalam perkembangan agama Islam di Indonesia.

Ia merupakan seorang yang mempelopori berdirinya Muhammadiyah. Ahmad Dahlan memiliki nama masa kecil yaitu Raden Ngabei Ngabdul Darwis. Kemudian nama tersebut dikenal sebagai Muhammad Darwisy.

Ia putra keempat dari tujuh bersaudara yang keseluruhan saudaranya perempuan, kecuali adiknya yang bungsu. Ia putra dari K. H. Abu Bakar yang merupakan seorang ulama dan khatib termasyhur di Masjid Besar Kesultanan Yogyakarta pada masa itu.

Ibunya adalah putri dari H. Ibrahim bin KH Hassan yang merupakan pejabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu. Bila dilihat dari silsilah keluarganya, dia termasuk keturunan yang ke-12 dari seorang wali besar dan terkemuka di antara walisongo yaitu Maulana Malik Ibrahim.

Ahmad Dahlan sejak kecil terkenal sebagai seorang yang cerdas dan mempunyai sifat yang  baik dan berkepribadian yang lembut. Kecerdasan tersebut sudah tampak dari kelancarannya dalam membaca Alquran di usianya yang masih 8 tahun.

Selain itu, dia juga dikenal akan sifat kepemimpinan yang baik di antara temannya. Beranjak dewasa, ia mendalami ilmu agama ke para ulama besar dan berangkat ke Makkah untuk belajar lebih dalam lagi ilmu agama sekaligus menunaikan ibadah haji.

Di saat bersamaan dia juga mempelajari pemikiran pembaharu Islam dari Muhammad Abduh, Al-Afgani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah.

Sepulangnya dari Makkah, ia mendirikan pondok dan menyediakan beberapa ilmu agama seperti ilmu tafsir, ilmu tauhid, dan ilmu falaq.

Pada 1890-an, kedua orang tuanya meninggal dunia dan iameneruskan tanggung jawab ayahnya untuk menjadi seorang khatib. Beliau dipanggil dengan sebutan Khatib Amin Haji Ahmad Dahlan.

Dirinya yang menjadi khatib ini semakin dikenal dengan sebutan kiai atau ulama yang menerima legitimasi keraton. Pengakuan seperti ini membuatnya menjadi sosok yang mempunyai kewenangan dan kekuasaan yang kuat di masyarakat Yogyakarta.

Peran Ahmad Dahlan di Bidang Pendidikan

Bicara perihal pendidikan di Indonesia, ini tidak bisa dilepaskan dari hasil perjuangan Ahmad Dahlan. Hal ini dikarenakan ia telah memainkan peran penting dalam pembaharuan pendidikan di Indonesia.

Gagasannya berawal mula dari adanya rasa tidak puas dalam dirinya melihat adanya sistem dualisme dalam sistem pendidikan Indonesia pada masa itu, yaitu adanya sekolah pesantren dan sekolah barat yang didirikan oleh kolonial Belanda.

Ia mempunyai keinginan untuk mengompromikan nilai-nilai positif dari kedua jenis pendidikan tersebut. Hingga tercetuslah pemikiran-pemikirannya ke dalam sistem pendidikan Muhammadiyah. Yang kemudian sistem pendidikan Muhammadiyah itu diadopsi ke dalam sistem pendidikan nasional.

Pada 1911, Ahmad Dahlan pertama kali mendirikan sekolah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah di Kauman, Yogyakarta. Mulanya, sekolah yang didirikannya itu dibuka di rumahnya dengan menggunakan sistem Barat.

Materi yang diajarkannya merupakan gabungan dari kedua jenis pendidikan di atas. Yaitu materi agama Islam seperti yang diajarkan di pesantren dan juga materi umum seperti yang diajarkan di sekolah Belanda.

Sistem pendidikan yang diajarkan merupakan sebuah pembaharuan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Yaitu dengan menggabungkan antara sistem pendidikan barat dan sistem pendidikan tradisional.  (Firza Aulia Ningrum) 

 

Editor : Imron Arlado
#ahmad dahlan #peringatan hardiknas #tokoh pendidikan #Hari Pendidikan Nasional