Perhatian lebih juga diberikan untuk mengembangkan bakat dan minat siswa lewat berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan program keunggulan yang ada.
Hasilnya, sepanjang tahun 2023, siswa MTsN 1 Mojokerto tercatat menorehkan ratusan prestasi di bidang akademik maupun nonakademik. Itu tercatat di level daerah, provinsi hingga nasional.
Kepala MTsN 1 Mojokerto Nur Kholis mengatakan, periode Januari-Oktober ini, ada sebanyak 108 prestasi akademik yang dicapai peserta didiknya. Sedang untuk di bidang nonakademik, ada 41 raihan prestasi yang diperoleh.
’’Alhamdulillah, untuk tingkat nasional di bidang akademik unggul dengan total 92 prestasi. Kalau di bidang nonakademik, raihan juara terbanyak ada di tingkat provinsi,’’ paparnya.
Dikatakannya, berbagai capaian prestasi anak didiknya tak lepas dari kerja keras siswa dan pembina dalam latihan.
Ibarat inkubator, MTs Negeri 1 Mojokerto memfasilitasi siswanya punya mental juara. Termasuk memberikan latihan intensif yang dilakukan jelang lomba atau kejuaraan yang akan diikuti.
’’Tentu dukungan wali murid serta program latihan yang dijalankan makin membuat minat dan bakat siswa kian terasah. Sehingga, mereka bisa meraih prestasi sekaligus mengharumkan nama madrasah di berbagai ajang lomba maupun olimpiade,’’ terangnya.
Di samping itu, untuk menunjang kualitas pendidikan yang mumpuni, MTs Negeri 1 Mojokerto juga menerapkan program Sistem Kredit Semester (SKS). Program ini sebagai bentuk penyelenggaraan pendidikan, yang peserta didiknya menyepakati jumlah beban belajar yang diikuti.
Sekaligus sebagai strategi belajar setiap semester pada satuan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan atau kecepatan belajarnya.
’’Alat utama guru dalam kegiatan belajar mengajar adalah UKBM (Unit Kegiatan Belajar Mandiri) dan BTP (Buku Teks Pelajaran). Dalam program SKS ini semua anak dapat menyelesaikan program dalam 6 semester,’’ imbuhnya.
Disebutkannya, penerapan SKS ini memiliki banyak keuntungan. Di antaranya, sistem belajar secara klasikal, kelompok, dan individu berdasarkan unit-unit pembelajaran utuh, lebih optimal dalam melayani perbedaan siswa, masa belajar lebih fleksibel, serta tidak ada ’’tinggal kelas’’ yang berakibat pada mengulang mapel lain yang tidak seharusnya diulang.
’’Selain itu, penerapan SKS pada metode pembelajaran terbukti lebih fleksibel dalam pengelolaan kelas sekaligus lebih mendorong motivasi belajar siswa,’’ pungkas dia. (oce/fen)
Editor : Fendy Hermansyah