Sekolah untuk siswa berkebutuhan khusus ini merupakan cabang dari Yayasan penyandang disabilitas di Trenggalek.
’’Kesempatan ini memang kita sengaja ikut memeriahkan karnaval kemerdekaan di Kutorejo,'’’ kata Ketua Yayasan Insan Mulia, Taryaningsih.
Sebelumnya, lanjut Taryaningsih, terdapat 25 anak berkebutuhan khusus yang mendapat pendidikan di tempat ini.
’’Sebenarnya kita lebih pemberdayaan, terapis pendidikan nonformal sampai ada kawasan inklusif untuk anak pasca-sekolah. Jadi mereka ditempatkan berdikari di kawasan inklusif itu. Kami berharap dengan mengikuti kegiatan-kegiatan seperti ini kita bisa memanusiakan manusia. Jadi inklusi yang sebenarnya itu kita wujudkan seperti ini jadi tidak ada perbedaan siswa luar biasa ini bisa ikut kegiatan-kegiatan sama seperti sekolah lain seperti itu bukan hanya kumpul sama sekolah SLB saja tapi dengan siswa reguler lainnya sehingga masyarakat menjadi tahu,’’ ungkapnya.
Taryaningsih menambahkan, kegiatan ini untuk mengedukasi agar bisa berkarya, berinteraksi, bersosialisasi dengan masyarakat lainnya dan anak nondisabilitas.
’’Jadi tujuannya mengikuti pawai itu sama memperkenalkan diri ke masyarakat,’’ujarnya.
Dikatakannya, orang tua yang memiliki putra-putrinya berkebutuhan khusus, akan diberi pelayanan pendidikan terbaik di tempat ini dan tidak perlu disembunyikan.
Dengan begitu, akan muncul kemerdekaan bagi kalangan disabilitas.
’’Kemerdekaan untuk mereka biar mendapatkan pendidikan yang sesuai. Jadi makna merdekanya kami, yakni, kita merdeka untuk belajar merdeka untuk mendapatkan pendidikan di semua tempat. Siswa berkebutuhan khusus bisa mendapatkan pendidikan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan belajarnya,’’ pungkas Taryaningsih. (dik/ron)
Editor : Fendy Hermansyah