JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Impian Indonesia untuk melangkah ke putaran final Piala Asia U-23 2026 harus kandas setelah tim asuhan Gerald Vanenburg terhenti di fase kualifikasi.
Vanenburg tidak menutup mata bahwa salah satu faktor terbesar kegagalan Garuda Muda adalah aspek fisik yang merosot, terutama ketika menghadapi laga-laga penting dengan tempo tinggi.
Kondisi tersebut membuat para pemain kesulitan menjaga intensitas permainan, sehingga dominasi lawan tak mampu dibendung dan peluang untuk melangkah lebih jauh pun sirna.
Pada laga penentuan, ketahanan fisik para pemain mulai goyah begitu memasuki babak kedua. Energi yang terkuras membuat konsentrasi menurun, sehingga sejumlah peluang emas gagal dikonversi menjadi gol.
Momentum itu justru berbalik menguntungkan lawan, yang tampil lebih segar dan mampu menguasai lini tengah sekaligus menekan barisan pertahanan Garuda Muda.
Tekanan berulang tanpa jawaban akhirnya membuat Indonesia harus tersingkir lebih cepat dari jalur kualifikasi.
Baca Juga: Perbaikan Stadion Gajah Mada Dianggarkan Rp 4,4 Miliar
Seusai pertandingan, Vanenburg menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap kondisi kebugaran dan persiapan fisik para pemain.
Ia mengakui bahwa kemampuan teknik serta daya juang Garuda Muda sudah menunjukkan potensi besar, namun tanpa fondasi fisik yang prima, peluang untuk bersaing di level Asia akan selalu terbatas.
Kompetisi dengan tempo tinggi, menurutnya, hanya bisa dihadapi dengan stamina terjaga dan pemulihan yang terencana.
Karena itu, ia menegaskan bahwa perbaikan program latihan, pola pemulihan, hingga manajemen beban harus menjadi fokus utama agar kegagalan serupa tidak kembali terulang.
Kekalahan ini sontak menuai beragam respons dari masyarakat. Banyak pendukung menilai kegagalan Timnas U-23 bukan semata kesalahan pemain di lapangan, melainkan cerminan dari persiapan yang kurang matang sejak awal.
Kritik pun mengalir deras kepada PSSI, dengan tuntutan agar federasi lebih serius menata pembinaan fisik dan mental sejak level usia dini.
Baca Juga: Terdepak dari Panggung Utama, Inilah 5 Alasan Nicolas Jackson Siap Tinggalkan Chelsea
Di jagat media sosial, kekecewaan bercampur dengan optimisme, di mana sebagian publik berharap kekalahan kali ini dijadikan momentum evaluasi menyeluruh, bukan sekadar bahan pembelaan diri.
Harapan terbesar kini terletak pada langkah konkret federasi agar Garuda Muda tidak lagi mengulang kesalahan yang sama di ajang berikutnya.
Pada akhirnya, kegagalan Timnas U-23 di kualifikasi Piala Asia 2026 harus dipandang sebagai pelajaran berharga mengenai urgensi konsistensi dalam pembinaan jangka panjang.
Indonesia sesungguhnya tidak pernah kekurangan bakat muda, namun potensi itu kerap terhambat oleh lemahnya perencanaan, minimnya dukungan infrastruktur, serta belum optimalnya standar latihan modern.
Tanpa perbaikan di aspek fundamental tersebut, mimpi bersaing di level Asia hanya akan berulang menjadi kekecewaan.
Kini, harapan publik bertumpu pada bagaimana Garuda Muda mampu bangkit, menjadikan kegagalan ini sebagai titik balik, dan membuktikan bahwa jalan menuju prestasi besar justru lahir dari kegigihan menghadapi keterpurukan. BINTANG PURNAMA/Wulan
Editor : Imron Arlado