RADAR MOJOKERTO - Jalan utama Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, Rabu (26/8) pagi terlihat lebih lengang dari biasanya.
Tidak tampak lagi mobil-mobil pribadi milik wali santri maupun tamu pesantren keluar masuk seperti sebelumnya.
Sementara yang terlihat hanya lalu lalang becak listrik dan golf car.
Hal ini setelah Panitia Lokal (Panlok) Muktamar ke-35 NU mulai menerapkan sterilisasi bagi kendaraan umum. Baik untuk sepeda motor maupun mobil pribadi.
Di pintu gerbang utama pesantren, petugas dari TNI/Polri terlihat menggelar apel, breafing bersiap menjalankan tugas pengamanan di kawasan muktamar.
Akses jalan di bawah gapura besar berwarna hijau bertuliskan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, juga telah terpasang barier dan pagar barikade.
Akses ini hanya dikhususkan bagi muktamirin dan tamu dari berbagai daerah yang baru datang.
Di sisi kanan jalan, deretan becak listrik satu per satu parkir berjajar. Sebagian driver lalu berinisiatif membersihkan becak listrik mereka agar tampak nyaman di mata.
Selebihnya terlihat santai duduk di jok penumpang sembari menunggu kedatangan tamu atau muktamirin untuk diantar ke tower tujuan.
"Ini hari pertama saya bertugas mengantar penumpang,” ujar Sunari, driver becak listrik yang parkir di urutan paling depan.
"Ini kami di sini sebagai relawan,” imbuh pria paruh baya ini sembari terus mengelap bagian belakang becaknya.
Deretan becak-becak listrik berwarna merah bata itu memang relatif terlihat masih baru.
Dilengkapi penutup knockdown dan ukuran jok penumpang yang lebih lebar. Berkapasitas mampu mengangkut dua penumpang sekaligus.
Di bagian sandaran penumpang terpasang stiker berlogo Muktamar ke-35 NU berikut dilengkapi nomor unit di sisi sudut kanan atas.
Sementara di samping kanan-kiri becak listrik terpasang gambar Presiden RI Prabowo Subianto dan Garuda Pancasila.
“Jumlah total becak listrik untuk muktamar ini ada 200 unit,” imbuhnya.
Sunari menuturkan, mengemudikan becak listrik ini sama halnya dengan mengendarai motor matic. Tidak ribet, simpel, dan ramah lingkungan.
“Karena sudah terbiasa mengendarai bentor (becak motor), saya rasa sangat mudah, tidak ada kesulitan sama sekali,” jelas pria yang mengenakan batik warna cokelat dan bersepatu ini.
“Enaknya lagi, dilengkapi indikator digital. Jadi kita bisa tahu tingkat kecepatan dan energi baterai yang tersisa,” paparnya.
Tak berselang lama beberapa muktamirin dari berbagai daerah pun mulai berdatangan.
Usai melakukan registrasi kepesertaan dan delegasi, muktamirin yang mengenakan baju putih, berkopiah, dan bersarung ini lantas diarahkan panitia bidang transportasi untuk menaiki becak. Menuju tower atau ribath yang sudah di tentukan.
“Dalam sehari dibagi dua sif. Sif pertama jam 09.00 WIB sampai 16.00 WIB. Lalu, sif kedua, dari jam 16.00 WIB sampai jam 22.00, WIB,” terang Sunari sembari memutar becaknya menyambut dua orang penumpang.
Marlan, driver becak listrik lainnya mengaku sangat bersyukur dirinya dilibatkan dalam tim driver becak listrik selama pelaksanaan muktamar.
Sebagai warga asli Kota Santri, pria 61 tahun ini merasa bangga dapat melayani muktamirin dan tamu muktamar di PPBU Tambakberas, Jombang.
“Alhamdulillah bersyukur sekali bisa berkhidmat di muktamar,” terangnya penuh bahagia.
Warga asal Sumobito, Kabupaten Jombang tersebut menyatakan tidak ada syarat atau ketentuan khusus untuk menjadi driver listrik.
Selain hanya para driver becak listrik dilarang memungut tarif kepada muktamirin atau tamu sebagai penumpang.
“Ada syaratnya, tidak boleh memungut biaya dari para penumpang,” terang tukang becak yang biasa mangkal di kawasan Peterongan, Jombang ini.
“Kecuali kalau dikasih sendiri. Kalau nggak dikasih ya gratis,” pungkasnya.
Editor : Moch. Chariris