JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Hari Film Nasional yang diperingati setiap 30 Maret menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjalanan panjang industri perfilman Indonesia. Penetapan tanggal ini tidak lepas dari sejarah produksi film Darah dan Doa karya Usmar Ismail yang pertama kali menjalani proses syuting pada 30 Maret 1950. Film tersebut dianggap sebagai tonggak awal lahirnya perfilman nasional karena diproduksi dan disutradarai langsung oleh sineas Indonesia.
Gagasan penetapan Hari Film Nasional sendiri telah muncul sejak Musyawarah Film Indonesia pada 1962, sebelum akhirnya resmi ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 1999 pada masa pemerintahan B.J. Habibie.
Peringatan ini bukan hanya sekadar simbolik, tetapi juga menjadi bentuk apresiasi terhadap karya, pelaku, serta perkembangan film Indonesia yang terus menunjukkan eksistensinya, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Seiring berjalannya waktu, kualitas film Indonesia semakin berkembang dan mampu bersaing di panggung global. Hal ini dibuktikan melalui berbagai penghargaan yang diraih sejumlah film Tanah Air.
Berikut beberapa rekomendasi film Indonesia berprestasi yang menunjukkan bahwa karya lokal tidak kalah dari produksi internasional:
1. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017)
Film ini menjadi salah satu karya Indonesia yang mendunia. Film ini diputar di berbagai festival film bergengsi seperti Cannes Film Festival, Toronto International Film Festival, hingga Melbourne Film Festival. Keberhasilannya menembus festival internasional menunjukkan daya tarik sinema Indonesia di mata global.
2. Kucumbu Tubuh Indahku (2019)
Film ini menjadi salah satu karya yang mendapat pengakuan luas, baik di dalam maupun luar negeri. Di tingkat internasional, film ini meraih Bisato D’Oro Award di Venice Independent Film Critic serta penghargaan di Festival Des 3 Continents. Sementara di dalam negeri, film ini memborong delapan Piala Citra pada Festival Film Indonesia (FFI) 2019, termasuk Film Terbaik dan Sutradara Terbaik. Pencapaian ini menunjukkan kuatnya narasi lokal yang mampu diterima secara global.
3. Penyalin Cahaya (2021)
Film garapan Wregas Bhanuteja ini sukses menjadi sorotan dengan meraih Film Cerita Panjang Terbaik di FFI 2021. Tak hanya itu, film ini juga mendominasi dengan 12 Piala Citra dari 17 nominasi. Di kancah internasional, Penyalin Cahaya turut mendapat pengakuan di Busan International Film Festival dengan melakukan world premiere di acara tersebut. Isu sosial yang diangkat membuat film ini relevan sekaligus kuat secara pesan.
4. Yuni (2021)
Film coming-of-age ini juga menorehkan prestasi membanggakan. Yuni berhasil meraih Platform Prize di Toronto International Film Festival, Silver Screen Award di Singapore International Film Festival, serta penghargaan di International Rome Film Festival. Selain itu, film ini juga mendapat apresiasi di dalam negeri melalui memenangkan penghargaan di Festival Film Indonesia dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival.
5. Jumbo (2025)
Sebagai film animasi, Jumbo membuktikan bahwa genre ini juga memiliki potensi besar di Indonesia. Film ini meraih penghargaan sebagai film animasi inspiratif di Festival Film Bandung serta mendapatkan Piala Antemas di FFI 2025 sebagai film dengan jumlah penonton terbanyak. Bahkan, film ini juga mencatat pencapaian internasional dengan masuk jajaran film terlaris ke-15 di Korea Selatan.
Melalui deretan film tersebut, dapat dilihat bahwa industri perfilman Indonesia terus mengalami perkembangan signifikan, baik dari segi kualitas produksi, keberagaman cerita, maupun pengakuan global. ASIKHA
Editor : Imron Arlado