Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Jelang Natal–Tahun Baru, Harga Cabai & Daging Dorong Inflasi – Pemerintah Pasang Siaga

Imron Arlado • Rabu, 26 November 2025 | 01:18 WIB

Kenaikan Harga hingga Dugaan Inflasi Menjelang Natal dan Tahun Baru 2025
Kenaikan Harga hingga Dugaan Inflasi Menjelang Natal dan Tahun Baru 2025

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Memasuki periode Natal dan Tahun Baru, pergerakan harga sejumlah bahan pangan kembali menunjukkan kenaikan yang menimbulkan kekhawatiran baru terhadap potensi inflasi akhir tahun.

Dalam dua pekan terakhir, komoditas seperti cabai dan daging mengalami lonjakan bertahap di berbagai daerah, memicu kewaspadaan baik dari pelaku pasar maupun konsumen.

Pemerintah merespons kondisi ini dengan menegaskan bahwa serangkaian langkah pengamanan pasokan dan pengendalian harga telah disiapkan untuk mengantisipasi gejolak yang mungkin muncul di puncak musim liburan.

Lonjakan harga yang paling mencolok terjadi pada komoditas cabai, khususnya cabai rawit merah dan cabai merah besar yang menjadi indikator sensitif di pasar.

Para pedagang di berbagai pasar tradisional menyebutkan bahwa harga cabai rawit, yang sebelumnya stabil di kisaran Rp40 ribuan per kilogram, kini telah melonjak mendekati Rp50 ribu di sejumlah daerah.

Kenaikan tersebut juga tercermin pada cabai merah besar dan cabai keriting, yang perlahan ikut merangkak naik seiring berkurangnya pasokan sejak memasuki awal musim hujan, ketika produksi dan kualitas panen mulai tertekan oleh kondisi cuaca.

 

Baca Juga: Mengenal Kuliner Fermentasi Khas Kebumen yang Membuat Banyak Orang Penasaran

 

Tak hanya cabai, harga daging sapi kualitas konsumsi rumah tangga juga turut mengalami kenaikan menjelang masa libur panjang.

Dorongan permintaan dari sektor hotel, restoran, dan katering (Horeka) menjadi faktor utama yang mengangkat harga, diperparah oleh biaya distribusi yang semakin tinggi menuju pusat-pusat perkotaan.

Para pedagang menyampaikan bahwa dalam dua minggu terakhir, harga daging sapi bergerak naik secara bertahap, dengan kenaikan berkisar antara Rp3.000 hingga Rp10.000 per kilogram, mengikuti tren peningkatan kebutuhan akhir tahun.

Sementara itu, pemerintah menegaskan bahwa stok pangan strategis di tingkat nasional masih berada dalam kondisi aman. Badan Pangan Nasional melaporkan bahwa pasokan beras, gula, dan telur relatif stabil, bahkan sejumlah varietas beras menunjukkan tren penurunan harga secara bertahap.

Meski demikian, pemerintah tetap memberi perhatian khusus pada kenaikan harga cabai dan daging sapi, yang dinilai berpotensi menjadi pendorong inflasi pangan pada Desember dan perlu diantisipasi agar tidak mengganggu kestabilan harga jelang penutupan tahun.

Menteri Perdagangan menegaskan bahwa pemerintah telah mengaktifkan sistem pemantauan harga harian di pasar-pasar rakyat, sekaligus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan alur distribusi tetap lancar.

 

Baca Juga: Vidi Aldiano Resmi Menang di Perkara Hak Cipta Lagu “Nuansa Bening”

 

Selain itu, operasi pasar juga tengah disiapkan bagi komoditas yang mengalami lonjakan mencolok, terutama cabai dan daging sapi, guna menambah suplai di tingkat konsumen.

Upaya ini diharapkan mampu meredam kenaikan harga lebih lanjut sehingga tidak menambah beban masyarakat di tengah meningkatnya kebutuhan menjelang akhir tahun.

Fenomena cuaca ekstrem yang mulai melanda sejumlah wilayah turut menekan kelancaran pasokan dari berbagai sentra produksi.

Para petani cabai di kawasan Jawa dan Sumatra melaporkan bahwa hujan berintensitas tinggi telah menggenangi sebagian lahan, memperlambat proses pematangan tanaman dan berdampak pada menurunnya kualitas panen.

Dalam waktu yang sama, distribusi daging sapi dari daerah penghasil juga menghadapi hambatan, mulai dari kondisi jalan yang kurang mendukung hingga biaya logistik yang meningkat menjelang akhir tahun, sehingga mempersempit ruang stabilisasi harga di pasaran.

Beberapa ekonom menilai bahwa kenaikan harga pangan jelang akhir tahun masih berada dalam kisaran yang dapat ditoleransi, meski tetap perlu dicermati karena berpotensi menimbulkan efek lanjutan pada komoditas lain.

 

Baca Juga: Ikonik dan Bersejarah, Gaun 'Balas Dendam' Putri Diana Kini Diabadikan dalam Patung Lilin di Paris

 

Mereka memprediksi inflasi Desember bisa terdorong oleh naiknya kelompok pangan bergejolak (volatile food), yang secara historis memang kerap meningkat pada periode libur panjang ketika permintaan melonjak dan distribusi menghadapi lebih banyak tantangan.

Dalam kondisi yang dinamis ini, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap berbelanja secara bijak dan menghindari aksi pembelian berlebihan. Pemerintah menegaskan bahwa ketersediaan pasokan berada pada level yang aman dan alur distribusi akan terus dipantau secara ketat hingga memasuki Januari.

Upaya tersebut diharapkan mampu meredam tekanan inflasi, menjaga daya beli, serta memastikan perayaan Natal dan Tahun Baru dapat berlangsung dengan tenang di seluruh daerah.

Dengan serangkaian langkah pengendalian yang telah disiapkan, pemerintah menyatakan optimisme bahwa gejolak harga pangan dapat ditekan, meskipun meningkatnya permintaan menjadi tantangan tersendiri menjelang tutup tahun.

Konsumen diharapkan tetap tenang, sementara pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas agar momen akhir tahun tidak terganggu oleh lonjakan harga yang berlebihan. BINTANG PURNAMA.

Editor : Imron Arlado
#kenaikan harga bahan pokok #natal dan tahun baru #jawa sumatera #nataru #inflasi