Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Begini Sejarah dan Perayaan Hari Waisak Bagi Umat Buddha di Indonesia

Imron Arlado • Kamis, 23 Mei 2024 | 01:15 WIB

 

SAMBUT WAISAK: Petugas sedang membersihkan patung Buddha Tidur menggunakan air bunga di Maha Vihara Mojopahit, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, kemarin. (Sofan Kurniawan/JPRM)
SAMBUT WAISAK: Petugas sedang membersihkan patung Buddha Tidur menggunakan air bunga di Maha Vihara Mojopahit, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, kemarin. (Sofan Kurniawan/JPRM)

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Hari Waisak merupakan hari raya keagamaan bagi umat Buddha.

Pada hari itu, seluruh umat Buddha merayakan untuk memperingati tiga peristiwa dari kehidupan Siddharta Gautama, yaitu kelahiran, pencerahan dan wafatnya.

WELAS ASIH: Para Biksu dan Biksuni menerima pemberian makanan dari masyarakat saat melaksanakan ritual Pindapatta jelang Waisak, Minggu (4/6) pagi.  (Sofan Kurniawan/JPRM)
WELAS ASIH: Para Biksu dan Biksuni menerima pemberian makanan dari masyarakat saat melaksanakan ritual Pindapatta jelang Waisak, Minggu (4/6) pagi. (Sofan Kurniawan/JPRM)

Hari Waisak diperingati setiap tahun pada 23 Mei 2024 dan menjadi libur nasional.

Hari Raya Waisak atau dikenal dengan Trisuci Waisak merupakan momen perayaan yang dilakukan dengan upacara.

Pada perayaan hari Waisak, terdapat sejarah di balik upacara yang dilakukan.

Sejarah tersebut menjadikan bukti keberhasilan agama Buddha yang menjadi kepercayaan bagi umat Buddha hingga saat ini.

Kata Buddha diambil dari nama pendiri agama tersebut, yakni Siddharta Gautama. Makna dari kata tersebut yaitu yang cemerlang, sadar, dan terang.

Waisak merupakan upacara untuk memperingati Buddha Gautama, yakni guru spiritual atau guru agung pada abad ke 5 SM.

Buddha Gautama atau Siddharta Gautama dilahirkan sebagai guru dan mempunyai pemikiran yang menjadi pedomannya.

Pemikiran tersebut yakni kekayaan atau kemewahan tidak akan menjamin seseorang akan bahagia.

Siddharta Gautama melewati berbagai proses untuk mendapatkan pencerahan.

Salah satunya yakni setelah bertapa di bawah pohon Bodhi yang hingga saat ini menjadi tempat bersejarah umat Buddha di India.

Siddharta Gautama juga dikisahkan sebagai seorang tunawisma dan berkeliling serta bermeditasi selama kurang lebih enam tahun.

Dalam proses perjalanan tersebut, Siddharta telah belajar dan mempraktikkan kehidupan asketisme.

Kehidupan tersebut merupakan kehidupan tanpa adanya kenikmatan seputar duniawi dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan spiritual.

Setelah mendapatkan pencerahan, Siddharta Gautama mengajak orang lain untuk menuju jalan kebebasan.

Yakni keluar dari nafsu keinginan dan lahir kembali setelah adanya penderitaan.

Dari proses perjalanan tersebut, Siddharta Gautama menemukan sisi terang atas kesabaran yang sudah dilaluinya.

Berkat kegigihan dan banyak hal yang dilakukannya, hal itu dapat menyentuh hati banyak orang.

Sehingga, banyak yang mengikuti ajarannya yang juga tersebar di berbagai wilayah. Salah satunya yakni di India, yang menjadi awal mula kemunculan penganut agama Buddha.

Pada 1950, Sri Lanka mengadakan konferensi mengenai persekutuan Buddhis sedunia, yakni sebagai perayaan Waisak sebagai hari lahirnya Buddha di berbagai daerah.

Dari sejarah Hari Waisak tersebut, menjadi nilai penting bagi umat Buddha, yakni kelahiran untuk menuju kecerahan dan perjalanan kematian Buddha Gautama.

Buddha Gautama menyebarkan agama Buddha ke seluruh Dunia. Akan tetapi, setiap negara memiliki perayaan yang berbeda.

Berikut perayaan Hari Raya Waisak yang dilaksanakan di Indonesia.

Di Indonesia, perayaan Waisak biasanya digelar dengan adanya festival lampion Waisak. Festival tersebut biasanya dilakukan di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Festival itu identik dengan momen pelepasan ribuan lampion kertas yang akan diterbangkan ke langit. Tradisi Umat Buddha di Indonesia ini sudah dilakukan sejak 1929.

Pada hari itu, biasanya umat Buddha akan pergi ke kuil di kota mereka. Bahkan, sebagian dari mereka akan tinggal di kuil tersebut selama beberapa hari dan bertepatan saat malam bulan purnama.

Umat Buddha juga akan melakukan banyak perbuatan baik, bermeditasi, merenungkan ajaran Buddha, membawa persembahan ke kuil dan membagikan makanan ke orang-orang. Selain itu, umat Buddha juga akan memakai kain putih.

Kartu ucapan juga akan ditukarkan sesama teman dan keluarga juga menjadi tradisi pada perayaan hari Waisak.

Perayaan lainnya yang dilakukan pada Hari Raya Waisak adalah upacara Bathing the Buddha.

Upacara ini merupakan upacara untuk memperingati saat air mengalir di bahu Buddha. Hal itu untuk mengingatkan umat Buddha dalam menjernihkan pikiran negatif, yakni keserakahan dan kebencian. (Nailul Mufarichah)

 

 

Editor : Imron Arlado
#sejarah waisak #kabar terkini #mojokerto #Waisak 2024 #23 mei hari apa