Akan tetapi, eksistensi koran sebagai media mainstream ternyata tak lekang oleh waktu.
Justru, koran dan media-media mainstream lain menjadi pijakan bagi pengguna media sosial (medsos) dalam menyebarkan informasi.
Khususnya dalam hal aktualitas dan validitas sebuah informasi sebelum bisa dikonsumsi masyarakat luas.
Bahkan, koran dengan medsos kini bisa saling bersimbiosis dalam menyebarkan informasi yang utuh, bermutu, dan mendidik.
Sehingga tercipta iklim yang saling menguntungkan sesuai dengan segmen pembaca atau followers-nya.
’’Dalam mencari informasi yang valid, pegiat medsos pasti menunggu media mainstream yang informasinya utuh. Sebaliknya, koran juga semakin eksis sebagai patokan penyajian berita yang utuh dan berimbang,’’ terang influencer sekaligus konten kreator instagram di Mojokerto, Fuad Amanulloh.
Pun demikian juga dengan penikmatnya, kedua media ini juga memiliki segmentasi yang berbeda namun saling menguntungkan.
Ia mencontohkan koran yang diisi karya jurnalistik berkompeten, biasa dibaca mulai kalangan akademisi, birokrasi hingga pengusaha.
Sedangkan medsos, justru menjadi langganan generasi muda yang haus akan hiburan.
Namun perbedaan tersebut tak lantas membuat pegiatnya saling bersaing dan bermusuhan.
Mereka justru saling membutuhkan dan berbagi informasi terkait perkembangan situasi terkini.
’’Contohnya soal berita viral yang pasti acuan media mainstream adalah media sosial. Sementara untuk keabsahannya, dibahas atau dikerjakan oleh para jurnalis atau media pers,’’ ujarnya.
Hal yang sama juga diutarakan kreator konten YouTube, Hizkia Umbu Hina yang masih mengakui eksistensi koran.
Meskipun saat ini informasi sudah terwakili audio visual, hal tersebut belum bisa mematikan koran yang menyajikan narasi informasi yang penuh dan lengkap.
’’Medsos memang terwakili oleh audio visual. Namun sajiannya tetap memperhatikan narasi yang bisa bersumber dari berita di koran,’’ pungkasnya. (far/fen)
Editor : Fendy Hermansyah