Hobi mengkliping yang bermula dari kebiasaan membaca koran langganan di perpustakaan sekolah itu membantunya merawat memori tentang klub kebanggaannya itu.
Dari masa PSMP tampil di Liga Nusantara, tersandung skandal pengaturan skor, hingga kebangkitannya belakangan ini.
Awank, seperti ribuan orang lain di Mojokerto adalah suporter fanatik PSMP. Warga Dusun Jetak, Desa Watukenongo, Kecamatan Pungging, itu sudah ngefans dengan Laskar Mojopahit, julukan PSMP, sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Untuk memenuhi rasa keingintahuan tentang klub ber-jersey merah hitam itu, Awank selalu membaca Jawa Pos Radar Mojokerto di perpustakaan. Seperti jadwal pertandingan hingga nama-nama pemain.
’’Dulu ada langganan koran Radar di perpustakaan Mojosari, waktu itu setiap habis sekolah atau pulang sekolah masih siang, saya pasti mampir ke perpustakaan lihat-lihat berita PSMP,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, Kamis (8/2).
Kebiasaannya itu berlanjut hingga sekolah menengah atas (SMA). Tak hanya membaca, Awank remaja mulai mengoleksi berita-berita seputar The Lasmojo, nama lain PSMP.
Kebiasaan mengkliping sejak 2015 itu berlanjut hingga kini. Awalnya pria yang berkerja sebagai tenaga honorer di Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Mojokerto tersebut lebih sering mendapat koran dari agen.
’’Dulu waktu masih sekolah sampai kuliah belum bisa berlangganan, sekarang setelah bekerja bisa berlangganan tetap,’’ tutur ayah dua anak tersebut.
Awank masih mengingat betul momen-momen penting PSMP yang diikutinya sejak dulu.
Dari ketika merintis di liga amatir (Liga 3), Liga Nusantara (sekarang Liga 2), hingga ketika PSMP terkena sanksi PSSI karena kasus match fixing pada 2018.
Lika-liku perjalanan itu terekam dalam harian koran Jawa Pos Radar Mojokerto yang terbit sejak 2001, tahun yang sama ketika PSMP terbentuk.
’’Bahkan nama suporter pun yang mencetuskan salah satunya Radar, dari nama The Lasmojo dan logo-logo juga,’’ kenang anggota kelompok suporter MP Loyalis 2001 itu.
Bagi pria berambut klimis ini, mengkliping adalah pekerjaan yang tak lekang zaman. Dengan mengoleksi koran, ia bisa merekam perjalanan yang dilalui klub kebanggaannya.
Koran, kata Awank, menjadi medium terbaik untuk merawat memori itu.
’’Dengan mengkliping, memori ada bukti otentiknya, tidak sekadar ingatan. Berita tentang PSMP disanksi mungkin hanya cerita, tapi kalau ada bukti otentiknya kan lebih puas,’’ tandasnya.
Fanatisme Awank terhadap PSMP memang tak perlu diragukan. Selain kerap mengikuti tim kemana pun bertanding, ia juga kolektor jersey ulung.
Tak heran kalau kostum PSMP dari berbagai periode dimilikinya.
Teranyar, dia membeli jersey PSMP musim lawas yang dipakai seseorang ketika menonton uji coba di Lapangan Sambiroto, Kecamatan Sooko, akhir 2022 silam.
’’Orangnya saya kasih jersey yang baru, orangnya juga keheranan. Tapi karena saking cintanya, saya beli,’’ ulasnya lantas tertawa. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah