Hal ini terungkap pada pelatihan jurnalistik yang digelar Brilliant Brain Community (BBC) kemarin (23/2). Kepala SMP DQ Dewi Maimunah menjelaskan, saat ini para siswa sudah memiliki antologi puisi yang berjudul Di Beranda Kasih Ibu. Selain itu, ada kumpulan cerpen santri yang berjudul Andai Aku Menjadi Remaja Hafidzah. ’’Sedangkan para ustaz dan ustazahnya juga tidak mau ketinggalan. Memiliki Kumpulan Tulisan Feature berupa Dari Edukasi, Ngaji hingga Budaya Ngopi,’’ ujar Ustadzah Mai, panggilan akrabnya.
Kepedulian ponpes terkait kegiatan literasi ini memang sudah berlangsung lama. Pihaknya, lanjut Mai, ingin membuat majalah dinding sekolah aktif. Bahkan majalah dinding kamar juga bisa berkembang.
Acara yang berlangsung mulai pagi hingga siang hari di aula Ponpes Darul Quran itu diawali dengan membaca Alquran, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lagu Yalal Wathon sebagai wujud kecintaan terhadap tanah air juga berkumandang pada acara tersebut. Sebagai pemungkas ada lagu mars Ponpes DQ.
Sementara itu, hasil karya tulis para siswa yang berupa pengalaman mereka selama di pondok pesantren mendapatkan apresiasi dari para pemateri. Iwan Rokhim selaku pemateri tampak terharu bahkan meneteskan air mata membaca tulisan para santri saat pertama kali masuk sekolah berbasis pesantren ini.
’’Tulisan kalian membuat saya terharu. Sekaligus bangga bahwa perjuangan kalian untuk bersekolah di sini luar biasa. Berani dan mau meninggalkan segala kemewahan di rumah. Melepaskan ketergantungan kepada handphone bahkan jauh dari orang tua. Saya saja seumur kalian mungkin tidak mampu untuk itu,’’ kata trainer dari BBC ini.
Beberapa karya siswa hasil pelatihan jurnalistik ini, kata Mai, nantinya akan dicetak dalam bentuk buku. ’’Saya ingin ada kenang-kenangan karya siswa dari pelatihan ini. Ada output yang kita hasilkan,’’ kata kasek perempuan tersebut. (*)
Editor : Fendy Hermansyah