Seperti yang tampak di SDN Meri 1 dan SDN Meri 2, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto, Jumat (6/1). Hampir seluruh siswa membawa lato-lato dan meainkannya secara serentak di halaman sekolah. ’’Diperbolehkan memang, karena lato-lato ini sebagai sarana interaksi bagi anak-anak untuk bermain lebih gembira,’’ terang Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Amin Wachid usai meninjau SDN Meri 2 dan SDN Meri 2, kemarin.
Namun, sebut Amin, peserta didik hanya diizinkan untuk memainkan lato-lato di luar jam pembelajaran. Itu pun dibarengi dengan pendampingan dan pengawasan oleh tenaga pendidik. ’’Penggunaannya pada jam istirahat. Ada pembelajaran dari gurunya cara bermain yang aman,’’ ulasnya.
Permainan berupa dua bola plastik yang dibandul dengan benang ini juga dimasukkan menjadi salah satu permainan tradisional di sekolah. Menurutnya, hal itu selaras dengan program Elingpiade atau akronim dari eling permainane dewe yang telah digulirkan sejak Maret 2022 lalu.
Sebagai bentuk melestarikan permainan tradisional, mulai dari lembaga jenjang PAUD, SD, dan SMP negeri/swasta setiap jam istirahat menggelar berbagai dolanan. Mulai dari gobak sodor, sondah, lompat tali, egrang, congklak, ular tangga, hingga halma. ’’Sekarang, lato-lato ini juga menjadi bagian dari permainan tradisional yang bisa digunakan untuk jam istirahat anak-anak,’’ imbuh Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispusip) Kota Mojokerto ini.
Di samping mampu menjadi sarana pembelajaran kreatif, permainan tradisonal juga diharapkan bisa mengalihkan anak pada ketergantungan gadget. Terbukti, di tengah demam lato-lato belakangan ini, anak-anak usia sekolah lebih banyak memainkan permainan yang juga dikenal ethek-ethek saat waktu luang. ’’Sekarang sering main ini (lato-lato, Red) kalau di rumah,’’ ucap Raditra Arisaputra, peserta didik SDN Meri 2.
Siswa yang duduk di bangku kelas I ini juga mengaku sudah jarang memainkan gadget. Karena sepulang sekolah, Raditya lebih sering berinteraksi dengan teman-temannya yang sedang gemar bermain lato-lato. ’’Paling sebentar saja (bermain gadget), habis itu main lato-lato lagi,’’ imbuh bocah 8 tahun ini. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah