Sayang, pengunjung pasar hewan sepi. Pembeli juga jarang terlihat. “Yang beli tidak ada. Semuanya bakul (pedagang, Red),” keluh pedagang kambing asal Prambon.
Sepinya pengunjung dan pembeli membuat pedagang kambing banting harga. Ini berbeda 180 derajat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebab, menjelang Hari Raya Idul Adha, harga kambing dan sapi akan meroket. Namun, pedagang memilih menurunkan harga karena adanya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyebabkan penutupan pasar hewan. “Kambing yang biasanya Rp 3 juta. Saya jual Rp 2,5 juta,” ujar pedagang yang enggan namanya dikorankan.
Sayang, meski sudah banting harga tetapi kambing tersebut tetap tidak laku. Sehingga, banyak pedagang yang harus membawa kambingnya pulang.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Nganjuk Haris Jatmiko menyayangkan aksi nekat pedagang kambing di Kertosono dan Warujayeng. Karena penutupan pasar hewan itu untuk memutus rantai penularan PMK. “Kalau seperti ini (tetap berjualan, Red) malah tidak selesai-selesai penanganan PMK nanti. Justru merugikan pedagang sendiri,” ujarnya.
Saat ini, kasus PMK di Kabupaten Nganjuk masih tinggi. Rawan jika pasar hewan diizinkan buka. Karena itu, Plt Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi berencana memperpanjang penutupan sementara seluruh pasar hewan selama dua minggu lagi. Hal ini terpaksa dilakukan agar PMK segera terkendali. (*/radarkediri)
Editor : Fendy Hermansyah