“Saya menyampaikan terima kasih, rasa bahagia, dan bangga mendapat penghormatan dari warga Tengger. Sebelumnya saya juga mendapat penghormatan sebagai Mama Alor NTT, marga Boru Nasution, dan beberapa gelar lain. Bagi saya, ini merupakan sebuah penghormatan yang luar biasa,” ujar Khofifah.
Bagi Khofifah, pengukuhan warga kehormatan ini bermakna sangat dalam. Yakni, bagaimana pemerintah Jawa Timur memberikan kesetaraan perlakuan serta kemajuan masyarakat, salah satunya Suku Tengger.
“Suku Tengger memiliki adat istiadat, kearifan, dan keguyuban yang luar biasa. Penghargaan ini berarti kerja-kerja kami di Pemerintahan Jawa Timur, harus bisa menguatkan peran serta menyejahterakan warga Tengger, dengan kekayaan budayanya,” katanya.
Pengukuhan sebagai Warga Suku Tengger ditandai dengan penyematan selendang kuning oleh Perwakilan Tokoh Masyarakat Tengger kepada Khofifah dan sejumlah tokoh lain. Di antaranya, Kepala Kejaksaan Tinggi Jatim, Danrem 083 Bhaladika Jaya, Dandim 0820 Probolinggo, Kapolres Probolinggo, Kapolres Probolinggo Kota, Kajari Kabupaten Probolinggo, dan Ketua Pengadilan Negeri Kraksaan.
Selendang berarti penanda pengukuhan dan ikatan kekeluargaan yang erat. Sedangkan, warna kuning berarti keagungan. Dalam Bahasa Jawa, kuning berarti ning atau hening. Artinya, pikiran masyarakat Tengger diharapkan hening. Sebab, dalam kehehingan hati akan didapatkan ketenangan pikiran.
Khofifah mengatakan, Malam Resepsi Yadnya Kasada adalah bagian dari momentum kebangkitan pariwisata Jawa Timur. “Ini sekaligus menjadi pengungkit potensi wisata di wilayah Bromo, Tengger, Semeru, khususnya di wilayah Bromo saat pandemi Covid-19 di Jawa Timur telah memasuki level 1 di semua kabupaten/kota,” katanya.
Khofifah menjelaskan, salah satu destinasi wisata baru yang kini tengah digarap di kawasan Bromo adalah Jembatan Kaca Bromo Tengger Semeru. Keberadaannya diharapkan dapat meningkatkan daya tarik pariwisata sekaligus ekonomi di wilayah tersebut.
Gubernur menyampaikan, awal mula ide desain jembatan kaca muncul dua tahun lalu oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. Untuk pertama-tama dicoba di Malang. “Kemudian saya sampaikan di Probolinggo area Bromo, juga strategis dan sekarang sedang dibangun. Saya minta lagi di Tumpak Sewu, Lumajang, agar wisatawan mendapat banyak varian angle untuk menikmati wisata di Jatim,” jelasnya.
Ia yakin destinasi wisata baru akan meningkatkan jumlah wisatawan dan menambah durasi menginap, sehingga dapat meningkatkan roda perekonomian masyarakat Suku Tengger.
Untuk mendukung wisata Bromo, Tengger, Semeru, Gubernur sedang membangun SMK Kepariwisataan yang saat ini gedungnya masih menumpang. Bahkan, ia juga berencana membuka jurusan sekolah diploma pariwisata. Hal ini untuk memperkuat wisata masyarakat Suku Tengger dan kawasan wisata Bromo, Tengger, Semeru.
Perwakilan Tokoh Masyarakat Tengger Supoyo menambahkan, kehadiran Gubernur dan seluruh jajaran menjadi momentum kebangkitan ekonomi masyarakat Tengger. “Mewakili masyarakat Tengger mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Jatim dan Plt Bupati Probolinggo,” katanya. (*) Editor : Fendy Hermansyah