BUBUR teplek Madura menjadi salah satu menu yang paling diburu untuk sarapan pagi. Bubur yang dipincuk dengan daun pisang ini cocok dimakan saat hangat. Menjadi pengawal hari sebelum memulai aktivitas kerja atau sekolah.
Lapak bubur teplek Madura mudah ditemukan di kawasan Alun-Alun Kota Mojokerto. Ada dua tempat. Satu di sisi selatan satu lagi di sisi barat. Keberadaannya bisa ditandai dari penutup berupa payung lebar warna warni. ’’Mau bungkus atau makan di tempat bebas,’’ kata Anik, penjual bubur yang berada di depan minimarket.
Menurut dia, sensasi rasa bubur terasa lebih nikmat saat makan di tempat. Kemasan daun pisang banyak disebut memberi rasa berbeda pada bubur yang disajikan. ’’Kata orang-orang lebih sedap,’’ ujarnya. Bubur biasanya disajikan dengan cara dipincuk.
Bubur dituangkan pada kertas minyak yang dilapisi selembar daun pisang. Isi bubur ini bermacam-macam. Terdiri dari sumsum, mutiara, ketan hitam, parutan kelapa, gula jawa, hingga jenang grendul. Semua komponen itu dituang menjadi satu dalam sajian bubur teplek Madura. Pembeli bisa menikmatinya hanya dengan harga Rp 5 ribu per porsi.
Berbeda dengan bubur pada umunya, penyajian bubur teplek ini tanpa santan. Hal inilah yang menurut Anik, menjadi dasar penyebutan bubur khas Madura ini dengan nama teplek. ’’Buburnya lebih kental dan padat. Makanya dinamai teplek,’’ ujar perempuan 40 tahun tersebut.
Bubur teplek banyak diburu saat pagi hari. Para pembeli ini mencari menu sarapan sebelum memulai beraktivitas. ’’Paling ramai itu kalau pagi, karena banyak yang berangkat kerja maupun sekolah,’’ imbuh perempuan asal Jalan Empunala, Kota Mojokerto ini.
Bubur teplek buka mulai pukul 06.00 sampai pukul 14.00. Lapak penjual bubur ini memang sudah lama ada. Namun, baru satu tahun terakhir ini Anik berjualan. Dia menggantikan sang eyang yang sebelumnya belama berpuluh tahun berjualan bubur teplek. Perempuan tua yang lama dikenal oleh warga Kota Mojokerto sebagai penjual bubur teplek di alun-alun. Saat itu, lapak bubur ini hanya buka sekitar tiga jam saja. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah