SEPANJANG 2021 dan tahun-tahun sebelumnya menjadi catatan penting untuk melangkah di tahun 2022 ini. Saya termasuk orang yang senang merenungi peristiwa alam, seperti saat melihat air yang mengalir di sungai yang terus mengalir itu. Juga merenungi pandemi Covid-19 sejak Maret 2020 hingga sepanjang 2021 dan memasuki 2022 ini yang belum juga berakhir. Tidak ada yang salah. Teruslah melangkah dan mengalir.
Segala peristiwa, apapun bentuknya, pastilah muaranya menuju keseimbangan baru. Apakah itu bencana alam, wabah penyakit, kemajuan teknologi yang mengubah pola hidup, keberuntungan, kerugian, kalah-menang pilkada, lulus kuliah, dapat pekerjaan dan lainnya, itu hanya alat sarana untuk mencapai keseimbangan baru.
Tugas kita hanyalah menyikapi keseimbangan baru itu. Misalnya, apakah kita mampu beradaptasi dengan keseimbangan baru itu? Apakah kita mampu bertahan dengan keseimbangan baru? Apakah kita terpuruk dengan keseimbangan baru itu? Apakah kita bakal menyerah dengan keseimbangan baru itu?
Sudah lama saya suka dengan istilah ’’keseimbangan baru’’ ini. Karena selain menjadi salah satu orang yang merasakan berkali-kali keseimbangan baru yang terjadi di koran ini, juga berkali-kali melihat keseimbangan baru yang terjadi di luar.
Bolehlah saya sedikit bercerita saat manajemen Jawa Pos Radar Mojokerto mengundang para agen Jawa Pos pada Jumat (30/12) atau dua hari lalu. Dalam silaturahmi yang dihadiri 15 agen itu, mereka mengungkapkan harapan-harapan, termasuk juga keluh-kesah selama menjadi agen Jawa Pos Radar Mojokerto. Senang, asyik, optimistis, juga terharu mendengarnya.
Seperti disampaikan Abah Haji Winarno yang sudah menjadi agen Jawa Pos selama 37 tahun. Baginya menjadi agen Jawa Pos tetaplah menjadi bagian masa depannya, meskipun berkali-kali mengalami keseimbangan baru, Abah Win –begitu panggilan akrabnya—tetap eksis sampai sekarang. Bahkan, akan menjadi agen sampai titik darah penghabisan, begitu ujar Abah Win yang tinggal di Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Keseriusan dan kesungguhan hati, menurut Abah Win, itulah yang menjadikan dirinya tetap bertahan menjadi agen Jawa Pos hingga sekarang. Rumahnya di Trowulan, memungkinkan dirinya merambah pelanggan bukan hanya di Trowulan dan wilayah di Kabupaten Mojokerto, namun juga hingga Mojoagung dan Wonosalam yang masuk Kabupaten Jombang. Ke depan, Abah Win tetap optimistis koran cetak tetap eksis meskipun harus berhadapan dengan media sosial dan online. Jualan koran cetak, menurutnya, bukan semata-mata mendapatkan keuntungan, namun juga ibadah. Rezeki yang berkah. Kuncinya di keseriusan dan kesungguhan hati. Pindah ke lain hati (bikin usaha baru) jelas lebih sulit dalam kondisi saat ini. Begitu dia menandaskan.
Lain lagi, yang diungkapkan agen Tamin. Saking yakinnya, Cak Tamin berucap, sampai kiamat pun Jawa Pos Radar Mojokerto tetap eksis. Alasannya, hingga saat ini kekuatan pemberitaan di Jawa Pos belum bisa ditandingi media manapun. Berita itu, menurutnya, soal kepercayaan. Dan, sampai sekarang kepercayaan itu masih di tangan koran ini. Agen dengan kiriman koran terbanyak di area Mojokerto ini juga berujar, tetap bersungguh-sungguh menjaga oplah Jawa Pos di Mojokerto Raya. Ayo kita jaga bareng-bareng kepercayaan masyarakat dan pemerintah, seru Cak Tamin.
Tak kalah menarik ungkapan Cak Lukman, yang juga agen Jawa Pos senior di Mojokerto. Dia menambahkan, pelanggan Jawa Pos di agennya banyak yang usianya di atas 60 tahun. Cak Lukman membaca itu sebagai peluang untuk mempertahankan oplah. Karena tak semua orang, meskipun memiliki smartphone, lantas tidak mau baca koran. Lebih sehat baca koran cetak, karena tak merusak mata, begitu pesannya sambil tersenyum. Banyak kekhasan di koran yang tidak ditemukan di media lain. Dia juga menyarankan, masukan-masukan dari pembaca hendaknya diperhatikan manajemen. Itu penting, mendengarkan masukan, tandasnya.
Ungkapan hati dan pengalaman para agen koran ini, rasa-rasanya pas untuk menggambarkan bagaimana kita harus bertahan dan tetap tumbuh dalam kondisi apa pun. Adaptif dengan keseimbangan baru adalah sebuah keniscayaan, agar keseimbangan baru itu tetap memberikan nilai positif. Banyak hal yang bisa kami petik dari silaturahmi dengan agen koran secara sederhana itu. Ini menjadi salah satu bekal kami untuk menjaga keseimbangan baru, yang sewaktu-waktu bakal menghinggapi.
Bisa saja frase menjaga keseimbangan baru ini, dipakai untuk menggambarkan kondisi Pemkot Mojokerto yang sejak beberapa waktu lalu tanpa wakil wali kota. Mungkin saja saat ini Wali Kota Mojokerto Ning Ita sudah mendapatkan keseimbangan baru setelah sekian lama menjalankan roda pemerintahan di Pemkot Mojokerto tanpa didampingi wakil wali kota. Atau bisa saja nanti, muncul keseimbangan baru setelah terpilih wakil wali kota baru.
Atau juga keseimbangan baru segera terwujud setelah pengisian 10 jabatan eselon IIb di Pemkab Mojokerto. Saat ini proses menuju keseimbangan baru masih terus berproses. Siapa saja nanti 10 nama dari 22 nama yang namanya diajukan ke KASN akan dipilih Bupati Mojokerto Bu Ikfina? Keseimbangan baru bukan hanya dialami lembaga, namun juga individu-individu.
Frase keseimbangan baru ini juga bisa dipakai untuk menggambarkan situasi apapun yang telah terjadi saat ini. Baik yang dialami bangsa, negara, pemerintah, lembaga, perusahaan, organisasi, individu dan semuanya. Keseimbangan baru itu bukan semata-mata karena sebelumnya tidak seimbang. Bukan. Tidak seimbang pun kalau itu dianggap sebuah keseimbangan baru, maka itulah keseimbangan baru. Karena memang keseimbangan baru itu sebuah keniscayaan. Bersiaplah dengan keseimbangan-keseimbangan baru yang bakal terus terjadi sepanjang tahun 2022. Selamat Tahun Baru 2022. (*)
*Direktur Jawa Pos Radar Mojokerto
Editor : Fendy Hermansyah