Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kelompok Pejuang Alap-Alap Samber Nyawa

Fendy Hermansyah • Kamis, 2 Desember 2021 | 16:45 WIB
kelompok-pejuang-alap-alap-samber-nyawa
kelompok-pejuang-alap-alap-samber-nyawa

DESEMBER 1948, Kabupaten Mojokerto pernah memiliki kelompok pejuang yang dikenal dengan julukan Alap-Alap Samber Nyawa. Peleton yang dipimpin seorang berpangkat letnan bernama As Pelor itu tergabung dalam Komando Hayam Wuruk dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan. Pasukan pejuang itu kemudian menjelma menjadi gerombolan peneror musuh dari markas di kaki pegunungan di selatan Mojokerto.


Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, di bawah Komando Hayam Wuruk, pasukan yang dipimpin As Pelor bergabung dengan Batalyon Bambang Yuwono di akhir Desember 1948. Kelompok pejuang tersebut bertugas di wilayah Pugeran, Kecamatan Gondang, dan Kecamatan Kutorejo.


Kedatangan pasukan Belanda memicu pecahnya pertempuran yang terjadi di wilayah segi tiga pertahanan Mojokerto pada 12 Fabruari 1949. Akibatnya, hampir separo dari pasukan Komando Hayam Wuruk gugur. ’’Pertempuran terjadi di tiga titik. Di Kutorejo, Mojosari, dan Dlanggu,’’ ungkapnya.


Serangan tentara kolonial tak hanya membuat pertahanan pasukan pejuang tertembus. Namun, pasukan pejuang kemerdekaan juga tercerai berai untuk menyelematkan diri setelah wilayahnya terkepung musuh.


Pria yang akrab disapa Yuhan ini menuturkan, salah satu kelompok yang berhasil meloloskan diri adalah pasukan dari As Pelor. Sejak saat itu, mereka terpisah dari Komando Hayam Wuruk untuk mencari tempat perlindungan. ’’Mereka pergi ke daerah Trawas dan membuat markas di sekitar Gunung Gajah Mungkur,’’ ulasnya.


Meski terpisah dari induk pasukan, As Pelor dan pasukannya tetap membawa ancaman bagi kolonial. Bahkan, kelompok pejuang yang kemudian memiliki anggota kurang lebih 250 orang itu menjelma jadi gerombolan liar bersenjata.


Dari balik pegunungan, mereka bergerilya menebarkan teror pada tentara kolonial. ’’Gerombolan liar tanpa induk pasukan itu kemudian dinamakan Alap-Alap Samber Nyawa,’’ tandasnya.


Sebuah julukan yang diambil dari nama burung pemangsa yang berhabitat di lereng-lereng pegunungan. Karena tak lagi tergabung dalam kesatuan militer, kelompok Alap-Alap Samber Nyawa terkesan lebih leluasa dalam menebar ancaman kepada Belanda.


Berbekal senjata rampasan dari musuh, gerombolan itu menebar ancaman dengan melakukan aksi pencurian yang menyasar orang-orang kolonial. Selain itu, kata Yuhan, kalangan pejabat pemerintahan pun juga tak luput dari sasaran.


Namun, aksi kriminalitas itu hanya ditargetkan pada kalangan yang dianggap jadi kaki tangan Belanda. Tak hanya pencurian, pasukan alap-alap juga melakukan penjarahan, perampasan, penculikan, hingga kekerasan yang berujung pembunuhan. ’’Daerah yang menjadi target operasinya juga tidak di wilayah Trawas, tapi juga meluas ke wilayah di sekitarnya,’’ papar dia.


Selama hampir setahun, pasukan alap-alap sudah mengusai medan di wilayah pegunungan selatan Mojokerto. Dari semula bermarkas di Gunung Gajah Mungkur, mereka juga melakukan serangan dari balik kaki Gunung Anjasmoro hingga Trowulan.


Penulis buku Revolusi di Pinggir Kali, Pergerakan di Mojokerto Tahun 1945-1950 ini menambahkan, tercapainya penyerahan kedaulatan wilayah Mojokerto pada 5 Desember 1949 tetap tak menghentikan teror dari pasukan alap-alap.


Namun, aksi kriminal yang dilakukan pascapenyerahan kedaulatan kemerdekaan RI akhirnya berujung pada tindakan tegas aparat penegak hukum. Pada pertengahan 1950, sang pemimpin Alap-Alap Samber Nyawa, As Pelor diamankan petugas kepolisian di Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. ’’As Pelor bersama sebagian gerombolan lainnya akhirnya ditangkap dan ditahan di penjara Mojokerto,’’ terang Yuhan. (ram/abi)

Editor : Fendy Hermansyah