Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sambung Cerita lewat Kartu Cerita

Fendy Hermansyah • Jumat, 5 November 2021 | 14:05 WIB
sambung-cerita-lewat-kartu-cerita
sambung-cerita-lewat-kartu-cerita

BAGI sebagian anak, membuat karya cerita pendek (cerpen) cukup sulit untuk dilakukan. Namun, kendala itu sepertinya tidak dialami siswa kelas IX SMPN 2 Kota Mojokerto. Peserta didik dengan mudah membuat naskah cerpen menggunakan teknik sambung cerita dengan media kartu cerita.


Inovasi pembelajaran tersebut tak lain dicetuskan Yohanes K. Wibowo, guru bahasa Indonesia di SMPN 2 Kota Mojokerto. Dia mengungkapkan, metode sambung cerita dengan media kartu cerita itu bermula dari kegelisahan siswa yang kesulitan menulis teks cerpen. ’’Permasalahan yang sering saya temukan, anak-anak kesulitan untuk bercerita secara tertulis. Terutama di awal cerita,’’ terangnya.


Untuk memudahkan peserta didik menuangkan ide cerita tersbeut, maka Yohanes berinisiasi untuk menggunakan kartu cerita. Sebuah lembaran kertas yang berisikan kalimat sebagai pijakan awal siswa untuk membuat cerpen. ’’Sehingga anak-anak tinggal meneruskan saja cerita yang ada di dalam kartu cerita,’’ ujarnya.


Tentu, penggunaan media pembelajaran kartu bercerita itu tidak diterapkan secara tiba-tiba. Sebelumnya, pendidik yang akrab disapa Pak Yo ini memulainya dengan mempraktikkan teknik sambung cerita kepada anak didiknya.


Awalnya, siswa diajak untuk bermain sambung kata. Yohanes menunjuk salah satu anak dengan satu kata yang dipilihnya. Kemudian peserta tersebut harus mencari sambungan kata lain yang relevan. Sambung kata itu terus berlanjut secara berurutan dengan menunjuk satu teman lainya untuk menyambungkan kata.


Setelah tuntas, level permainan ditingkatkan menjadi sambung kalimat. Yohanes membuat satu kalimat yang selanjutnya dilemparkan ke salah satu siswa untuk melanjutkan dengan kalimat berikutnya. Penyambungan kalimat itu juga terus digulirkan hingga menjadi sebuah paragraf. ’’Melalui teknik sambung cerita itu, saya melakukan penyadaran kepada siswa bahwa mereka sebenarnya bisa menyambungkan kalimat menjadi paragraf,’’ tandasnya.


Dengan begitu, anak-anak juga ditanamkan motivasi untuk bisa menyambungkan paragraf menjadi teks atau naskah cerpen. Hingga akhirnya, teknik pembelajaran sambung cerita itu kemudian diaplikasikan ke dalam kartu cerita.


Guru asal Dusun Segaran, Desa/Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto Mojokerto, ini menambahkan, dalam kartu cerita terdapat pembagian tiga struktur cerita sebagai pemandu siswa untuk menulis. Masing-masing adalah struktur orientasi atau awalan berita. ’’Di dalam kartu cerita sudah ada satu paragraf awal yang saya sampaikan. Selanjutnya akan disambungkan dengan paragraf-paragraf berikutnya oleh anak-anak,’’ paparnya.


Sedangkan struktur berikutnya adalah kompilasi atau permasalahan. Sehingga siswa bisa membangun konflik cerita pada struktur kompilasi. Sedangkan terakhir adalah struktur resolusi atau penyelesaian. Dengan begitu, maka penulis bisa menentukan alur yang dijadikan sebagai ending cerita. ’’Struktur ini sebagai pedoman mereka (anak-anak) supaya tidak bingung mau diarahkan ke mana ceritanya,’’ bebernya.


Selain memudahkan siswa membuat cerpen, salah satu finalis 10 besar Teaching Cahllenge, Adu Kreativitas Mengajar 2021 juga mampu memunculkan keberanian dan kepercayaan diri anak-anak dalam menuangkan cerita secara tertulis. Bukan tidak mungkin, kartu cerita juga bida dimodifikasi dengan memberi awalan pada struktur cerita lain. ’’Jadi, awalan cerita bisa kita geser dengan mengisinya ke struktur komplikasi atau resolusi. Supaya mereka (siswa) tidak ketergantungan,’’ pungkasnya. (ram/abi)

Editor : Fendy Hermansyah