Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Perawatan Mudah, Masa Panen Hanya Butuh 25 Hari Saja

Fendy Hermansyah • Sabtu, 30 Oktober 2021 | 17:45 WIB
perawatan-mudah-masa-panen-hanya-butuh-25-hari-saja
perawatan-mudah-masa-panen-hanya-butuh-25-hari-saja

Beternak jangkrik, menjadi pilihan bagi sebagian para petani di utara Sungai Brantas. Selain mudah dipelihara, serangga ini memiliki nilai ekonomis tinggi.


KHUDORI ALIANDU, JETIS, Jawa Pos Radar Mojokerto


SEPERTI yang dilakoni sejumlah petani di Dusun Kwangen, Desa Sidorejo, Kecamatan Jetis. Musim kemarau belakangan ini, membuat mereka memutar otak. Untuk mempertahankan dapur tetap mengebul, mereka pun mencari pekerjaan sampingan. Seperti memiara jangkrik. ’’Sebagai sampingan. Alhamdulillah ternak jangkrik cukup menguntungkan,’’ ungkap Firma Hadi, 51.


Ia menceritakan, untuk dua kali panen saja, ia bersama para peternak lain sudah bisa balik modal. Yakni, Rp 3 juta untuk pembuatan kandang dan kebutuhan perawatan lainnya. Sebab, dari 1 kg bibit telur jangkrik genggong seharga Rp 180 ribu yang dibeli dari pengepul, dia bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp 2,8 juta. Dengan rata-rata hasil panen sebanyak 1,5-2 kuintal. ’’Sekali panen saya untung bersih Rp 1,4 juta. Masa panen juga cukup singkat sekitar 25 hari saja,’’ katanya.


Di kampung ini, terdapat sekitar 17 petani yang ikut beternak jangkrik. Potensi ini pun memiliki peluang besar bagi para petani sekitar. Termasuk bagi pemula. Sebab, prosesnya cukup mudah. Termasuk dalam pemberian makan. Cukup dengan makanan pabrikan, dan pohon pepaya sebagai minumnya. ’’Mudah dilakukan untuk semua pemula. Saya dari awal langsung berhasil,’’ tambahnya.


Yang terpenting, lanjut bapak dua anak ini, tingkat kestabilan suhu harus diperhatikan. Seperti musim kemarau. Menurut dia, cukup cocok untuk perkembangan jangkrik. Pasalnya hewan yang dijadikan makanan ekstra atau makanan burung berkicau ini tak menyukai suhu dingin dan semilir angin. ’’Paling penting suhunya harus hangat. Antara 36 derajat. Kalau kedinginan, dia malas makan, terus sering sembunyi. Jadi kelaparan, sulit dan lambat berkembang. Bahkan kadang saling makan (kanibal),’’ paparnya.


Suprianto, petani lain juga mengaku untung besar dengan beternak jangkrik. Sambil menunggu musim cocok tanam, dirinya masih bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah dari jangkrik. Harganya pun masih menjanjikan. Tiap kilogram jangkrik usia 25 hari bisa tembus Rp 25 ribu. Itu jika dijual ke penjual pakan burung secara eceran. ’’Tapi, kalau di kami, sistem kontrak dengan pengepul telur. Satu kilonya dalam perjanjian Rp 19 ribu. Kita beli telur dari pengepul, kita harus menjual ke pengepul juga,’’ tegasnya. (ron)

Editor : Fendy Hermansyah